loading...

Teori Psikoanalisis Jaqcues Lacan (Gambaran Umum, Histori, Tahapan, dan Konsep)


Gambaran Umum Teori Psikoanalisis
Teori psikoanalisis melingkupi diri manusia, dan manusia tersebut saling berhubungan baik dengan dirinya sendiri ataupun lingkungan sosial, politik dan budaya sekitar. Implementasinya yang secara tidak sadar terjadi, bahkan dapat membentuk kehidupan manusia melalui “Bahasa”. Subjektivitas dianggap sebagai sesuatu yang terus mengalami kekurangan dan mengalami kondisi yang tidak utuh, sehingga muncul keinginan atau yang disebut Lacan sebagai “hasrat” untuk melengkapi kekurangan tersebut. Pencarian keutuhan ini dapat dilihat dari pergerakan hasrat subjek dari bahasa-bahasa karyanya (Sarup, 2011: 2).

Psikoanalisis membicarakan pemikiran-pemikiran tentang konsep “diri”, ekspresi diri, hasrat, seksualitas, atau persoalan individu dan masyarakat. Menempatkan bahasa sebagai sesuatu yang ambigu, tidak ada yang pasti dan yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan. Sebagai pemahaman awal pada teori psikoanalisis, akan ditampilkan terlebih dahulu penjelasan historisnya, tentang awal berkembangan psikoanalisis, kemudian dilanjutkan dengan tahapan tripatrie psikoanalisis Lacan. Kemudian dilanjutkan dengan konsep psikoanalisis yang menjelaskan tentang penempatan “Bahasa” sebagai simbol-simbol yang membentuk diri dan subjektivitas manusia.

Historis Psikoanalisis
Pada dasarnya Lacan mengembangkan teorinya masih bertumpu pada teori psikoanalisis Sigmund Freud. Pada masa berkembang pesatnya keilmuan tentang Psikoanalisis yang pertama dipelopori oleh Freud, muncullah berbagai organisasi terkait keilmuan psikoanalisis. Setelah Freud meninggal, keilmuannya diteruskan oleh putrinya sendiri Dr. Anna Freud yang mengembangkan International Psychanalytique Assosiation (IPA), dan didirikan pula cabang-cabang nasional dalam berbagai negara diantaranya di Prancis Societe Psychanalitique De Paris (SPP) dibawah pimpinan ahli psikoanalisis Dr. Marie Bonaparte. Organisasi-organisasi tersebut mempunyai tujuan yang sama yakni sebagai pusat pendidikan praktis psikologi, yang menangani pasien dengan gangguan jiwanya. Psikologi Freud adalah tentang klinis dan kejiwaan (Verhaar, 1989: 52).

Tahun 1930 Lacan mengikuti pelatihan sebagai anggota SPP. Tahun 1950-an Lacan dan beberapa kawannya mulai mengembangkan prinsip Psikoanalisis yang berbeda dengan yang diajarkan Freud, maka terjadi perbedaan pendapat antara teori dan praktik. Perbedaan pendapat antara Lacan dan organisasi-organisasi tersebut adalah Lacan lebih menafsirkan ajaran Freud dalam prespektif “strukturalisme” yang mengarah ke ‘bahasa’. Dapat dikatakan bahwa Lacan adalah gabungan dari Freud dan Sausure, dengan sedikit sentuhan Levi Straus, serta sedikit bumbu Derrida dan Heidgger. Pengaruh utama atau pendahuluannya adalah Freud (Barcher. 2009:X).

Strukturalisme muncul di Prancis dalam ilmu linguistik yang digagas oleh tokoh linguistik modern Ferdinan De Sausure dari Swiss, kemudian beberapa bukunya diterbitkan oleh murid-muridnya sehingga menarik perhatian Claude Levis Straus dan mempengaruhi kajiannya dibidang antropologi budaya. Strukturalisme dapat dikatakan sebagai “struktur bahasa”, setiap bahasa adalah struktur atau sistem yang terdiri atas relasi-relasi. Hal tersebut yang sering disebut oleh Ferdinan sebagai istilah ‘penanda-petanda’. Saussure beranggapan hubungan penanda tertentu dengan petanda tertentu akan membentuk tanda-tanda linguistik. Meski demikian cara pandang Lacan sama dengan Derrida yang menyatakan bahasa adalah relasi tentang penanda-penanda (Barcher, 2009: xi). Menurut Lacan petanda adalah sesuatu yang tidak stabil dan akan terus berubah atau bersifat sementara.

Menurut konsep bahasa Lacanian, suatu penanda selalu menandakan penanda lainnya, tidak ada kata yang bebas dari metaforisitas (metafora adalah penanda yang menandakan penanda lain). Lacan bicara tentang glisement (keterplesetan, keterglinciran) dalam mata rantai penandaan, dari penanda satu ke penanda yang lain. Setiap “penanda” dari “penanda” dapat menerima pemaknaan, maka tidak pernah ada makna yang tertutup, dan makna yang memuaskan (Sarup, 2011: 10).

Tahapan Psikoanalisis
a. Tahap nyata (real)
Kondisi real yang dimaksud pada tahap ini adalah real asal. “Hasrat asali” yang muncul dengan utuh, penuh dan terpuaskan. Real ini tidak dapat dirupakan dengan bahasa atau berbentuk material, karena real asali masih berada di luar bahasa. Diri belum mengenal pemisah antara diri sendiri dan apa saja yang ada diluar diri, serta Belum ada bahasa-bahasa yang mengkontruksi.

Lacan menjelaskan bahwa, tahapan real dapat dikatakan sebagai tahapan undifferenciated, tahapan ketika diri tidak terbedakan dengan yang lain. Tahapan ini dibayangkan pada fase tubuh bayi (infant) dan tubuh ibu masih dibayangkan sebagai satu kesatuan. Tentunya hal tersebut tidak dapat dialami ulang oleh subjek ketika subjek dilahirkan, karena setelah lahir, kelamin sudah ditentukan, serta subjek akan dihadapkan pada kode sosial seperti diberi baju atau nama sesuai dengan jenis kelamin biologisnya. Tahapan real merupakan subjek pralinguistik yang memungkinkan diri belum terfragmentasi, belum ada pemilahan subjek-objek, anak-ibu, ataupun subjek dengan kebutuhan biologis yang dihasratinya. Fase real berbeda dengan real dalam artian realitas, karena realitas baru dapat ditangkap setelah manusia berbahasa yang memungkinkan dirinya untuk mengutarakan objek yang dihasratinya. Maksud dari realitas adalah dimensi saat subjek mengalami lack (kekurangan) akibat tubuhnya yang tidak terpuaskan, sedangkan real adalah wilayah ketika perasaan utuh atau terpuaskan muncul (Ganesha, 2017: 1).

Sebuah realitas atau kenyataan merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk diketahui kebenarannya, sulit dibahasakan atau disimbolkan. Ruang yang belum masuk bahasa, belum terjamah fantasi-fantasi dan sistem linguistik. Wilayah yang seperti utuh, tidak ada kekurangan dan keterpisahan (Barcher, 2009: xv). Real tersebut tidak dapat dimediasi oleh bahasa, namun jika sudah masuk ke bahasa maka real tersebut akan hilang dan tidak akan dapat kembali seperti semula. Hasrat narsistik adalah yang utama sebelum munculnya bahasa. Hasrat menyatu dan melengkapi segala kekeurangan ibu, seperti hasrat seorang anak yang ingin menyusu ke ibunya. Hasrat tersebut mungkin muncul karena adanya rasa ingin menyusu dan mendapatkan nutrisi dari ASI, atau menyusu untuk mendapat kenikmatan. Realitasnya adalah seorang anak lebih mencari kenikmatan ketika menyusu. Adanya rasa nyaman, aman, hangat, teduh ketika menempelkan mulutnya di puting ibu. Hasrat yang murni itulah dapat disebut sesuatu yang benar-benar nyata atau real. Hal tersebut jelas tidak dapat dilakukan kembali ketika seorang anak sudah menjadi subjek baru, resistensi tersebut ditandai dengan dialihkannya hasrat tersebut misalnya, dengan mengkonsumsi rokok.

b. Tahap imajiner (cermin)
Tahap imajiner juga disebut dengan fase cermin. Fase cermin tersebut membentuk pemahaman diri atas dirinya sendiri. Proses ini terbentuk oleh imajiner-imajiner yang muncul sebelum bahasa bersifat visual, mendahului tahap simbolik dan psikis seorang anak. Pertama, seorang anak yang berdiri di depan cermin masih mencampuradukan bayangannya sendiri dengan bayangan orang yang ada di sampingnya. Kedua, anak belajar konsep citra dan memahami bahwa bayangan yang ada di dalam cermin itu tidak nyata. Seseorang pada tahap ini membangun subjeknya sendiri, seperti halnya orang yang berdandan atau bersolek di depan cermin, maka secara tidak langsung seseorang itu hanya ingin membangun subjek melalui citranya sendiri. Ketiga, tahap ini menyadarkan kepada anak bahwa bayangan di dalam cermin tersebut hanyalah citra belaka. Walaupun itu citranya sendiri, namun ditahap ini anak menyadari bahwa citranya berbeda dengan orang lain (Sarup, 2011: 6).

Subjek dan alienasi adalah dua relasi yang muncul pada fase cermin. Keduanya saling berkaitan. Sama halnya dengan orang yang sedang bercermin, di dalam cermin tersebut terlihat bayangan yang sama, struktur bayangannya juga sama. Seseorang yang berdandan dan membangun sebuah citraan, akan melihat bayangannya di dalam cermin adalah objek yang dibentuk sebagai citraan dari tubuh asli di depan cermin (subjek). Bayangan yang terdapat dalam cermin adalah alienasi atau diri yang sengaja diasingkan oleh subjektivitas tubuh yang asli, namun bayangan yang dicitrakan dapat berpengaruh pada sesuatu yang terjadi di luar tubuh.

Pada tahap imajiner Lacan menampilkan hasrat utama seorang anak yang pada awalnya adalah ingin melengkapi apapun yang kurang dari ibunya. Fenomena Oedipus Kompleks yang tidak lagi dilihat dalam ranah tubuh saja, tetapi dilihat dalam ranah bahasa. Sarup menjelaskan bahwa Lacan melihat Oedipus Kompleks bukan sebagai psikologi genetik, namun sebagai fenomena proses humanisasi. Fenomena tersebut merupakan proses perkembangan manusia dari kondisi alamiah menuju hidup kultural, kelompok, hukum, bahasa dan organisasi. Serta menyadarkan bahwa dirinya berbeda dengan “Sang lain” (2008: 6-7).

Pertentangan antara phallus dan penis, akhirnya membentuk Lacan melakukan determinasi, karena sama dengan Levis Traus, Lacan menganggap tabu adalah bahasa. Determinasi tersebut menjelaskan bahwa phallus tidak sama dengan penis. Penis merupakan milik individu, sedangkan phallus adalah milik struktur bahasa itu sendiri. Seseorang tidak dapat memiliki phallus, bahkan ada kemungkinan phallus yang mengatur segala keinginan seseorang untuk menjadi atau memiliki. Phallus juga merupakan “pusat” penjangkar dari rantai penanda, supaya struktur bahasa tersebut tetap stabil (Barcher, 2009: xxv). Hubungan anak dengan ibu yang fungsional, secara tidak sadar akan membentuk anak menjadi figur seorang ayah. Fase ayah muncul sebagai orang ketiga yang memisahkan anak dan ibu dengan aturan-aturannya.

c. Tahap Simbol
Lacan dalam Suryajaya (Vol II, 2014: 138) beranggapan bahwa ketaksadaran terstruktur seperti bahasa. Alasan pertama karena kesadaran adalah wilayah hasrat manusia, dan karena “hasrat” merupakan hasrat orang lain yang diinternalisasikan kedalam manusia melalui bahasa. Pada mulanya hasrat itu merupakan hasrat dari apa yang dihasrati oleh orang lain (desir de son desir). Ketaksadaran seseorang dapat dilihat dari laku berbahasanya. Subjek yang menyatakan atau berpendapat adalah kondisi menyatakan secara sadar, tentang sesuatu yang ada dalam pemikirannya. Sementara subjek yang menyatakan dianggap seperti “ketaksadaran” dari pernyataan tersebut. Maka makna lain yang tersembunyi secara “tidak sadar” dapat diidentifikasi ketika pikiran tersebut dibahasakan.

Bahasa dapat dikatakan sebagai simbol. Pada tahap tersebut budaya, sosial dan politik mulai bermain dan menjadi konstruksi dalam pembanguanan diri subjek. Pada konsep Lacan bahasa adalah simbol dari aturan-aturan. Tahap ini menunjukan bahwa “Ayah” adalah representasi dari aturan dan hukum. Ketika “Ayah” hadir di tengah-tengah “Ibu” dan anak, “Ayah” dianggap pemegang kekuasaan tertinggi, dan anak bertransformasi menjadi objek secara utuh. Lacan beranggapan kuat bahwa subjek ditentukan oleh “Bahasa”. Subjek tidak dapat terbentuk tanpa “Bahasa”, artinya subjektivitas diri seseorang tidak ada tanpa bentukan dari aturan-aturan di luar dirinya.

Bahasa seorang “Ayah” dapat berpengaruh penuh dalam pembentukan diri anak. Pada tahap berikutnya anak mulai sadar bahwa dirinya berbeda dengan ayah atau segala sesuatu di luar dirinya (Sang lain). Pada fase ini mungkin posisi dapat terbalik, ketika anak menjadi subjek atas bahasa “Ayah”. Anak harus menjadi subjek baru ketika hasratnya bergerak mencari keutuhan-keutuhan tersebut. Pencarian keutuhan hasrat tersebut, subjek akan selalu dibenturkan oleh simbol-simbol bahasa sehingga sejatinya memang tidak akan pernah mencapai sesuatu hasrat yang utuh seperti awal, sehingga yang ada hanya resistensi.

Konsep Psikoanalisis Lacan
Jiyoung dalam Faruk (2015: 177) menjelaskan bahwa, nama “Pascastrukturalisme” berguna hanya sejauh ia berfungsi sebagai “kata pelingkup” (umbrella word), yang mendefinisikan dirinya secara bermakna dalam batas hubungan temporal dan spasial dengan strukturalisme. Pascastrukturalisme adalah wacana yang self-reflektif, yaitu wacana yang terus menerus membelah dirinya dan melawan sistemnya sendiri sehingga kritiknya menghindari diri untuk menjadi utuh dan menjadi sebuah metode yang mapan (Faruk, 2015: 179).

Psikoanalisis berada di bawah payung himpunan keilmuan Postrukturalisme. Pengkajiannya berkutat pada proses-proses kultural, dimana manusia digerakan dan dibentuk oleh relasi-relasi budaya, sosial, dan politik yang semua itu begerak melalui simbol-simbol aturan. Simbol-simbol aturan ini muncul dalam bentuk bahasa-bahasa, dan menyebabkan manusia tenggelam dalam bahasa.

Menurut Lacan, “ketidaksadaran” merupakan struktur tersembunyi yang mirip bahasa. Pengetahuan tentang dunia, yang lain, dan diri ditentukan oleh bahasa. “Bahasa” merupakan prakondisi tidak menjadi sadar bahwa kita adalah entitas yang berbeda (Sarup, 2011: 5). “Bahasa” menjadi simbol dari penanda-penanda, dan bahasa menjadi simbol atas kekuasaan. “Bahasa” merupakan kekuasaan dari sosial, kebudayaan, larangan dan hukum. “Bahasa” menjadi ambigu ketika tidak ada keseimbangan, ketidakseimbangan tersebut menyebabkan “ketaksadaran”. Melalui “bahasa” Lacan juga menunjukan bahwa subjek selalu berada dalam posisi terbelah, rapuh, dan pergerakannya melalui hasrat untuk mencari keutuhan.

Masa pertumbuhan seorang anak akan dibiasakan dan dibentuk “Bahasa” tanpa menyadari konsep tersebut. Konsep Lacan ini jelas berbeda dengan konsep Freud yang lebih mengarah pada psikologi klinik dan kejiwaan. Sebab bagi Lacan tidak ada sesuatu yang disebut “tubuh” sebelum adanya “Bahasa”. Melalui kekuatan simbolik Lacan ingin menunjukan pergerakan kebudayaan memaksakan makna atas bagian-bagian tubuh.

Lacan mengambil “anak” sebagai contoh. Seorang anak adalah manusia baru yang dengan mudah terbentuk oleh apapun. Terutama sesuatu yang sering terjadi di lingkungan sekitarnya. Lacan mengidentifikasi konsep tersebut terjadi pada lingkup keluarga (bapak, ibuk dan anak). Keluarga merupakan negara pertama yang ditempati oleh sang anak. Keluarga adalah negara terkecil yang di dalamnya juga terdapat banyak “bahasa-bahasa” yang membentuk diri seorang anak. Lacan menggabungkan fenomenologi dan strukturalisme. Fenomenologi menekankan konsep diri (subjek) yang bebas, sementara strukturalisme menekankan determinasi bahasa (Sarup, 2011: 3). Konsep diri yang bebas artinya diri yang tidak terikat oleh aturan-aturan, dikaitan dengan sikap diri yang selalu terpengaruhi oleh fenomena sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar diri oleh bahasa. Determinasi struktur bahasa tersebut ikut mempengaruhi sikap dan perubahan seseorang. Struktur bahasa yang terjadi sebelumnya, memberi dampak terhadap struktur yang sekarang. Hal tersebut menandakan “diri” (subjek) terbentuk oleh bahasa.

Konsep Subjektivitas Lacan
Dialektika yang dibangun oleh Lacan pada tahap imajiner adalah subjek dan alienasi (keterasingan). Subjek ditemukan dari konsep “aku-kamu” yakni antara subjek dan objek, konsep ini menjelaskan tentang ketika si “aku” mengatakan dirinya adalah subjek maka apapun yang ada di luar “aku” adalah objek, atau munculnya pengakuan diri (self-recognition) (Faruk, 2015: 187). Keterasingan atau alienasi yang terjadi pada tahap ini ialah adanya diri lain dalam cermin yang dikonstruksi dari luar, sehingga ada diri asali yang sengaja diasingkan. Postrukturalisme telah menekankan bahwa subjek bukanlah suatu yang stabil melainkan suatu konstruksi bahasa, kontruksi politik, dan konstruksi budaya (Cavallaro, 2004: 155). Psikoanalisis menggugat peran bahasa sebagai otoritas dalam proses subjektivitas. Proses subjektivitas mengantarkan manusia menuju proses kedewasaan, mental, seksual dan sosial. Lacan mengatakan bahwa orang tidak mempunyai seperangkat ciri yang kukuh, tidak ada subjek kecuali representasi, tetapi tidak ada suatu representasi yang dapat menangkap diri subjek secara penuh (Faruk, 2015: 190).

Mekanisme pembentukan subjek (subjektivitas) dapat diidentifikasi dengan menggunakan metode narsistik dan anaklitik. Narsistik adalah suatu sifat atau hasrat untuk menjadi dan anaklitik adalah hasrat untuk memiliki. Hasrat narsistik (HN) dibagi menjadi dua yakni, HN aktif dan HN pasif. HN aktif adalah ketika seseorang berhasrat menjadi “Sang lain”, sedangkan HN pasif adalah ketika seseorang berhasrat menjadi objek dari “Sang lain”. Hasrat anaklitik (HA) juga dibagi menjadi dua yakni, HA aktif dan HA pasif. HA aktif adalah ketika seseorang berhasrat memiliki “Sang lain” untuk mendapat kepuasan, sedangkan HA pasif adalah ketika seseorang berhasrat dimiliki “Sang lain” sebagai kepuasan “Sang lain” (Barcher, 2009: 30). Pergerakan hasrat subjek dalam narsistik dan anaklitik dapat diketahui melalui tiga tahap psikoanalisis yang terus bergerak dan menyebar disetiap elemen, atau yang dapat disebut dengan tahap tripatrie, yakni tahap nyata, imajiner dan simbolik yang sudah dijelaskan sebelumnya. Penemuan subjek akan bahasa menghasilkan berbagai konsekuensi, seperti konsekuensi masuknya bahasa kedalam subjek. Lacan menghubungkan teori bahasanya dengan subjektivitas. Lacan yakin bahwa subjek manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa, tetapi subjek tidak dapat direduksi menjadi bahasa. Keduanya memiliki hubungan yang melingkar (Barcher, 2009: 302).

Subjektivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses identifikasi pembentukan identitas diri penyair. Proses identifikasi tersebut, “hasrat” dibenturkan kepada situasi-situasi yang terbelah dan tidak akan mendapatkan keutuhan lagi, tetapi yang ada hanya resistensi. Struktur pembentuk subjek seperti budaya, sosial, politik, yang muncul serupa “bahasa-bahasa” disimbolkan dengan aturan yang sudah terbelah sejak awal. Struktur-struktur yang mengkonstruksi serupa “bahasa” tersebut ambigu. Sifat ambigu tersebut menandakan kekurangan, kehilangan, ketidakstabilan, ketaksadaran dan keterbelahan. Adanya kekurangan tersebut subjek akan terus bergerak mencari keutuhan dan keingingan, ini oleh Lacan biasa disebut dengan istilah “hasrat”. Subjektivitas menandakan akulturasi, polarisasi, sekaligus resistensi yang berada dalam wilayah hasrat (pra bahasa).



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teori Psikoanalisis Jaqcues Lacan (Gambaran Umum, Histori, Tahapan, dan Konsep)"

Posting Komentar