loading...

Pengertian Materialisme Dalam Filsafat



Apa itu Materialisme?
Materialisme dalam filsafat adalah pandangan bahwa segala sesuatu yang ada terdiri dari materi atau tergantung pada materi untuk keberadaannya. Materialisme umumnya dikontraskan dengan idealisme, yang berpendapat bahwa gagasan itu nyata dan menekankan pentingnya akal dan jiwa. Materialis pada umumnya percaya bahwa satu-satunya hal yang nyata adalah hal-hal yang dapat dirasakan seseorang melalui indranya dan bahwa semua peristiwa di alam semesta dapat dijelaskan oleh hukum ilmiah. Dasar materialisme adalah penyangkalan terhadap keberadaan Tuhan yang mengarahkan alam semesta dan keabadian jiwa individu.

Salah satu materialis paling awal adalah Democritus, seorang filsuf Yunani yang tinggal di abad ke-4 SM. Dia mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini terdiri dari potongan-potongan kecil materi, yang dia beri nama atom, dan bahwa semua kejadian dapat dijelaskan oleh gerak atom di luar angkasa. Pandangan serupa diajarkan oleh filsuf Yunani lain, Epicurus, dan, di dunia Romawi, oleh Lucretius, terutama dalam puisinya De rerum natura ("On the Nature of Things").

Selama Abad Pertengahan pandangan dunia Kristen, yang idealis, dan bukan materialistik, diterima secara universal di Eropa, dan tidak sampai periode Renaisans, dimulai sekitar tahun 1400-an, materialisme mulai dihidupkan kembali dalam pemikiran Barat. Selama beberapa abad berikutnya, materialisme mendapat pengaruh karena munculnya ilmu fisika modern, yang peduli dengan menjelaskan dunia dalam hal materi dan gerak. Materialisme tampak sebagai filosofi yang jelas dimana manusia dapat mengatur temuan sains baru ini ke dalam pandangan dunia yang konsisten.

Pada abad ke-17 dan ke-18, materialisme dikemukakan oleh Thomas Hobbes, Pierre Gassendi, Julien de la Mettrie, dan Baron Paul d'Holbach.
Reaksi terhadap materialisme berkembang selama abad ke-18 dan 19, terutama dalam karya filsuf idealis seperti George Berkeley dan Georg Hegel. Setelah kematian Hegel pada tahun 1831, materialisme menikmati kebangkitan yang kuat. Hal ini sebagian disebabkan oleh Revolusi Industri, yang memusatkan perhatian pria pada kondisi material kehidupan di kalangan orang miskin. Perhatian terhadap sarana material produksi ekonomi, misalnya, yang mengilhami Karl Marx untuk mengembangkan filsafat materialisme dialektisnya, filosofi komunis Komunis.

Ilmu pengetahuan selama abad ke-19 juga cenderung mendorong materialisme sebagai filsafat. Teori evolusi biologis Charles Darwin, misalnya, menyebabkan banyak orang percaya bahwa manusia tidak memiliki jiwa yang unik namun hanyalah bentuk kehidupan yang lebih kompleks yang berevolusi dari hewan yang lebih rendah dan dapat dijelaskan dalam bentuk kekuatan fisik semata.

Kekuatan fisik yang dengannya ilmu pengetahuan pada awalnya dipahami sebagai mekanik, yaitu, sebagai atraksi atau penolakan antara benda-benda yang bergerak melalui ruang sesuai dengan hukum-hukum yang tetap. Akhir abad ke-19 dan di abad ke-20, bagaimanapun, gagasan lama tentang materi sebagai benda padat memberi jalan pada pandangan materi yang lebih rumit sebagai energi atau medan kekerasan. Penemuan baru dalam fisika telah menyebabkan sejumlah filsuf memilih istilah "naturalisme" yang lebih luas untuk menggambarkan filosofi bahwa dunia nyata adalah dunia alam yang dipelajari oleh sains.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Materialisme Dalam Filsafat"

Posting Komentar