loading...

TEORI STRUKTURAL SASTRA

Teori Struktural Sastra
Strukturalisme sebagai suatu aliran memiliki rumusan yang bermacam-macam, tetapi terdapat satu kesamaan di dalamnya, yaitu mengenai objek penelitian yang menitikberatkan pada humaniora. Analisis struktural adalah analisis yang mengkaji bahwa unsur-unsur karya sastra itu saling berhubungan erat, saling menentukan maknanya (Pradopo, 1995:118). Selain itu hasil karya sastra, dalam hal ini novel, merupakan sebuah cerita yang dapat dipahami dalam cerita itu sendiri. Hal tersebut berhubungan dengan analisis struktural yang memandang karya sastra sebagai struktur yang otonom. Analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, sedetail, dan seteliti mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1988:135). Pendekatan struktural merupakan tahap awal dalam memahami karya sastra dari unsur struktural atau pembentuk karya sastra. Analisis struktural karya sastra dapat dilakukan dengan mengidentivikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2002:37). Analisis struktural merupakan tahap awal dalam penelitian sastra yang sulit untuk dihindari, karena melalui analisis ini memungkinkan penjabaran secara optimal. Unsur struktural dalam analisis ini meliputi: tema, tokoh dan  perwatakan, konflik, dan latar.

a. Tema
Tema merupakan landasan dan gagasan yang membentuk susunan cerita serta peristiwa yang terjadi pada karya itu sendiri.  Setiap karya sastra memiliki tema. Tema merupakan gagasan pokok yang menjadi dasar sebuah cerita. Menurut Stanton (dalam Suharto, 2010:45), tema adalah makna sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana. Menurutnya, tema bersinonim dengan ide utama (central idea) dan tujuan utama (central idea). Tema, dengan demikian, dapat di pandang sebagai dasar cerita  atau gagasan dasar umum sebuah karya novel.
Menurut Nurgiyantoro (2002:82-83), tema terdiri atas dua macam, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor merupakan makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu sendiri, sedangkan makna-makna tambahan merupakan tema minor.
Menurut Esten (1984:92) di dalam sebuah karya sastra mungkin banyak persoalan-persoalan yang muncul, tapi tentulah tidak semua, persoalan itu bisa dianggap sebagai tema. Menentukan tema dapat melihat persoalan mana yang merupakan tema, pertama dilihat persoalan yang paling menonjol, kedua secara kuantitatif persoalan mana yang paling banyak menimbulkan konflik dan melahirkan peristiwa-peristiwa, ketiga menentukan waktu penceritaan yaitu yang diperlukan untuk menceritakan peristiwa-peristiwa ataupun tokoh-tokoh di dalam karya sastra.

b. Tokoh dan watak
Tokoh adalah individu yang berperan penting dalam suatu cerita. Menurut (Sudjiman, dalam Maslikatin, 2007:25), tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Tokoh merupakan unsur yang sangat penting dalam suatu karya sastra. Tanpa tokoh cerita, karya sastra tidak dapat berjalan, karena tokohlah yang bertugas menyampaikan cerita (informasi/amanat) kepada pembaca (Sudjiman, dalam Maslikatin, 2007 : 25).
Tokoh dan watak merupakan salah satu unsur pembangun sebuah karya sastra. Dilihat dari segi peran dan kepentinganya dalam cerita, tokoh cerita menurut Nurgiyatoro (2002:176-177) dapat dibedakan menjadi tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama adalah tokoh tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam karya sastra, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh bawahan adalah tokoh yang keberadaanya mendukung tokoh utama. Menurut Esten (1984: 93) dalam menentukan tokoh utama ada beberapa langkah yang dapat kita ambil, pertama dilihat permasalahannya (tema) tokoh mana yang paling banyak berhubungan dengan masalah tersebut. Kedua, tokoh mana yang paling banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh lainnya. Ketiga, tokoh mana yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.
Setiap representasi dari kehidupan manusia, setiap tokoh dalam cerita mempunyai watak dan watak itu selalu berbeda-beda. Seringkali untuk menunjukkan watak tokoh pengarang menggunakan simbol-simbol dan pemilihan nama. Nurgiyantoro (2002:181-183) membedakan watak tokoh menjadi dua, yaitu watak sederhana (flat character) dan watak bulat (round character). Watak sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi satu sifat saja, dan watak bulat adalah tokoh yang memiliki perubahan watak dari awal sampai akhir cerita.

c. Konflik
Konflik adalah sesuatu yang menjadikan hidup sebuah karya sastra yang nanti akan menentukan hidup matinya sebuah karya, hidup mati sebuah karya dalam hal ini yang di maksut adalah sebuah pencapaian baik buruknya sebuah karya. Konflik dalam suatu cerita muncul karena perbedaan karakter masing-masing tokoh. Adanya tokoh-tokoh yang berperan menurut karakter masing-masing dapat menimbulkan permasalahan sehingga peristiwa itu semakin menegang dan terjadilah konflik. Wellek dan Warren (1995:285) menyatakan bahwa konflik adalah sesuatu yang “dramatik” yang mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan seimbang yang menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.
Tarigan (1984: 134) konflik dibagi menjadi dua, yaitu konflik fisik dan konflik batin. Konflik fisik disebut juga konfllik eksternal berupa pertentangan manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya, dan manusia dengan masyarakat. Konfllik batin disebut konflik internal berupa pertentangan antara satu ide dengan ide yang lain , dan konflik yang terjadi antara seseorang dengan kata hatinya.

d. Latar
Latar atau setting disebut juga sebagai landas tumpu mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Nurgiyantoro, 2002:216). Latar dalam sebuah cerita lebih dikenal dengan setting, bukan sekedar menunjukkan pada tempat atau waktu saja, melainkan pada hal-hal yang hakiki dari suatu wilayah. Menurut Nurgiyantoro (2002:227), latar dibagi menjadi 3, yaitu:
1)             latar tempat, yaitu latar yang menyarankan pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar tersebut biasanya dihubungkan dengan tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu atau lokasi tertentu;
2)             latar waktu, yaitu latar yang menggambarkan waktu suatu cerita atau peristiwa itu terjadi. Hal tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitanya dengan peristiwa sejarah. Latar dalam suatu cerita memudahkan pembaca mengimajinasikan kejadian dalam cerita;
3)      latar sosial, menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.


Kunjingi juga artikel ini Pengertian Karya Sastra dan  Teori Semiotika dan Penerapannya

Catatan :
Artikel ini hanya sebagian data yang saya tampilkan karena untuk menanggulangi panjangnya artikel.
Semua literatur yang saya pakai asli dari buku yang saya miliki sehingga tidak ada jiplakan karena artikel ini salah satu teori bagian dari skripsi saya sendiri.
Kesalahan penulisan merupkan kelemahan dalam menulis artikel, itu semua dikarenakan sifat dari manusia itu sendiri. Heheehehhe.......
Untuk lebih lanjut mengenai penjelasan, pembaca dapat mengirim keluhan pada kolom komentar atau email saya.
Selanjutnya jika masih diberi umur panjang saya akan menulis artikel mengenai teori-teori lainnya

Selamat Membaca Dan SEMOGA BERMANFAAT KAWAN.....


Penulis : Rizki Subbeh

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TEORI STRUKTURAL SASTRA"

Posting Komentar