loading...

FENOMENA KEMERDEKAAN INDONESIA

FENOMENA KEMERDEKAAN INDONESIA
(mengindonesiakan diri ataukah meng-indone-sia-siakan diri)

Jika kita mendengar hari kemerdekaan, apakah yang akan anda lakukan? Ya, pertanyaan ini sesekali melilit pikiran. Banyak warga berbondong-bondong ingin memeriyahkan hari kemerdekaan. Tradisi ini sepertinya sudah menjadi virus setiap tahun, bukan hanya di Indonesia saja, mungkin setiap negara akan merayakan apabila sudah mencapai waktunya.

Secara umum, Merdeka merupakan suatu kondisi yang telah terlepas dari cengkraman dominasi pihak tertentu. Dengan kata lain, maka setiap negara yang menyatakan merdeka mutlak terlepas dari segala intimidasi, hegemoni, dan dominasi dari pihak-pihak tertentu. Namun, jika saya kembali menelaah pada fenomena tersebut. Maka saya menemukan keganjalan yang membuat merinding, kenapa? Karena saya berfikir pantaskah saya mengindonesiakan diri? atau sebaliknya, apakah saya meng-indone-sia-siakan diri?

Pemikiran tersebut tersirat ketika ajang tahunan ini menjadi perlombaan disetiap kota, desa, dan kampung yang membuat saya kembali mengoreksi diri. Banyak yang berasumsi, mengikuti perlombaan kemerdekaan, memasang bendera depan rumah, serta merayakan dengan iringan pawai  karnaval sudah dianggap sebagai salah satu kontribusi bahwa saya adalah INDONESIA. Pada kenyataannya, segala aktivitas yang terdapat dalam fenomena kemerdekaan Indonesia adalah anjuran. Jika seperti itu, maka sebagai manusia yang tercipta dengan kesempurnaan yang komplit sudah menjadi kewajiban untuk berfikir ulang dimana letak kemerdekaan Indonesia tersebut.

Kembali saya ulas, segala aktivitas yang terdapat dalam fenomena kemerdekaan Indonesia adalah anjuran. Apabila anjuran sudah ditetapkan maka semua akan bergerak sesuai anjuran komando, entah di kota, desa, maupun kampung. Belum lagi, banyak kalangan yang sudah menunggu bulan kemerdekaan pamrih dengan acara yang sudah menjadi jadwal tahunan. Lantas, itukah kemerdekaan?
Marik kita ulas lebih dalam lagi, tradisi pada kemerdekaan Indonesia kerapkali diwarnai dengan serba serbi hiburan. Tidak sedikit yang memiliki progam bulan kemerdekaan, mulai dari presiden, wali kota, bupati, kecamatan, dan kepala desa selalu menjadi tombak utama untuk memberikan serba serbi kemerdekaan dengan berpegang teguh “merayakan kemerdekaan negara Republik Indonesia”. Sampai-sampai ajang ini juga menjadi tolak ukur acara ter(besar, mewah, dan ramai).

Progam-progam tersebut juga melibatkan kalangan bawah (rakyat biasa baik pegawai kantor hingga kuli serabutan). Sehingga melahirkan suatu kondisi yang tidak murni. Kenapa tidak murni? Karena pada dasarnya tidak ada faktor pembangun dalam setiap progam kemerdekaan karena semua itu hanya anjuran. Alhasil : kebutaan makna merdeka, ajang hura-hura, pamrih bulan kemerdekaan, mengaku-ngaku indoneisa menjadi momok tersendiri. Hasil tersebut juga pernah saya alami, mungkin kalian juga akan merasakannya ketika mulai berfikir.

Kita lihat saja sebagai contoh di kampung. Terkadang anjuran pemasangan bendera kerapkali melibatkan semua warga baik orang tua, pemuda, dan anak kecil. Namun mereka tidak pernah berfikir apakah kemerdekaan Indonesia itu? Mereka hanya memikirkan keramaian atribut bendera Sang Saka Merah Putih berkibar disetiap gang dan jalan serta menantikan event apa yang akan digelar, apakah ada penambahan acara atau akan tetap sama dengan tahun sebelumnya. Bukankah seperti itu yang kita rasakan? Cukup kita yang dapat menjawabnya.

Lantas, dimana kesakrakalan Kemerdekaan itu? Apakah setiap tahun akan terus bergulir seperti ini? Lalu benarkah selama ini saya meng-indone-sia-siakan diri? semua pertanyaan ini hanya saya yang dapat menjawabnya karena sesungguhnya setiap progam kemerdekaan memiliki tujuan tertentu baik sebagai pengobat rasa penat rakyat atas ketidakseimbangan kehidupan dari peraturan, ekonomi, hukum dll.

Sedikit pencerahan, bagi saya pribadi makna kemerdekaan merupakan gerakan untuk memberikan kontribusi yang fital tentunya yang dapat memberikan kesan BAHWA SAYA INDONESIA. Ini semua juga terlepas dari pro kontra dengan anggapan dan pemikiran setiap individu mengenai KEMERDEKAAN INDONESIA.


penulis : Rizki Subbeh


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "FENOMENA KEMERDEKAAN INDONESIA"

Posting Komentar