loading...

Teori Psikologi Humanistik



Penerapan Teori Psikologi Humanistik ke dalam karya sastra novel Ega karya Anggie Meisyarah

Seorang manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra merupakan penggambaran manusia sebenarnya, dengan demikian tokoh-tokoh dalam karya sastra juga memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya. Tokoh utama dalam novel Ega karya Anggi Meisyarah adalah Ega. Maslow (dalam Koeswara, 1991:118) membagi kebutuhan-kebutuhan manusia ke dalam lima tingkatan yaitu: kebutuhan-kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan memiliki, kebutuhan akan rasa harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri.
Psikologi Humanistik Tokoh Ega
Psikologi humanistik adalah sebuah gerakan yang muncul dengan menampilkan gambaran manusia yang berbeda, dengan gambaran manusia dari psikoanalisis maupun behaviorisme, yakni berupa gambaran manusia sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat serta selalu bergerak ke arah ungkapan segenap potensi yang dimilikinya apabila lingkungan memungkinkan. Adanya pengaruh eksistensialisme, psikologi humanistik mengambil model dasar manusia sebagai makhluk yang bebas dan bertanggung jawab.
Maslow (dalam Koeswara, 1991:113) menyatakan bahwa setiap manusia adalah satu kepribadian secara keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi, yang menunjukkan eksistensi manusia memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya itu. Adapun kepribadian menurut Maslow (dalam Koeswara, 1991:116) adalah sebagai lukisan penggunaan dan pemanfaatan secara penuh bakat, kapasitas-kapasitas dan potensi-potensi.
Kebutuhan-kebutuhan manusia terbagi ke dalam lima tingkatan yaitu: kebutuhan-kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan memiliki, kebutuhan akan rasa harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri.

Ø  Kebutuhan-kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Kebutuhan ini antara lain kebutuhan akan makanan, minuman,istirahat, udara, seks, pendidikan, sedih atau menangis. Kebutuhan fisiologis ini sangat mempengaruhi tingkah laku manusia sehingga selalu berusaha untuk dapat memuaskannya, sebelum memuaskan kebutuhan yang lain yang sifatnya lebih tinggi menurut Maslow (dalam Koeswara, 1991:119).
Setiap makhluk hidup khususnya manusia tidak dapat hidup tanpa adanya makanan dan minuman. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi oleh setiap manusia. Tokoh Ega memiliki kebutuhan dasar fisiologis berupa kebutuhan makan, minum, istirahat, dan sedih. Kebutuhan tersebut sangat dibutuhkan agar dirinya tetap pada kondisi yang kuat dalam menjalankan aktivitasnya. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan data berikut.

Mama aku menangis sambil memanggilnya tapi dia tidak mendengarkanku lagi saat itu yang terasa sakit bukan pipiku tapi hatiku dan yang kutakutkan bukan pukulan mama melainkan tatapannya kepadaku. (Ega : 19)

Menangis merupakan kebutuhan dasar fisiologis untuk mengungkapkan rasa sedih atau senang. Persoalan yang dialami keluarga Ega telah merubah perilaku ibunya. Beliau mengalami gangguan jiwa karena tidak dapat menerima kenyataan bahwa keluarga mengalami kebangkrutan. Sejak ibunya mengalami gangguan jiwa, kasih sayang yang semestinya dilakukan oleh orang tua telah berubah menjadi tindakan kekerasan. Ega kerap kali menerima perlakuan yang dapat melukai perasaannya sehingga dia hanya dapat melihat, menerima, dan menangis. 
Menangis merupakan sebuah pengekspresian diri ketika seseorang sedang dalam kebingungan, kekecewaan, takut, dan rasa emosi. Emosi muncul ketika seseorang sedang mengalami situasi bersedih. Selain kebutuhan fisiologis bersedih, Ega juga membutuhkan tidur dan tempat istirahat untuk kebugaran tubuhnya.  Data yang mendukung ialah sebagai berikut.

Tinggallah di sini selama yang kamu mau, Pak Bos membuka suara. “aku tidak akan menahanmu. Kalau tidak betah, kamu boleh pergi kapan saja. Kamu boleh menyebut ini rumah dan aku tidak akan menutup pintu kalau kamu mau kembali. Kamu boleh pulang dan pergi sesuka hatimu,” sambungnya. (Ega : 7)

Tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar fisiologis. Ega mencari alamat yang diberikan oleh Pak Wira. Perjalanan Ega mencari alamat tersebut berhasil. Pak Bos yang mengetahui akan ada pemuda yang datang mencarinya, menyiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan. Pak Bos menawarkan tempat tinggal dan memberikan pekerjaan terhadap Ega. Tawaran Pak Bos tidak dapat ditolak oleh Ega karena dia juga membutuhkannya, sehingga Ega menerima meski dengan respon yang sinis. Pada dasarnya Manusia membutuhkan tempat tinggal agar dapat melindungi diri, tempat istirahat, dan bersantai. Segala kebutuhan tersebut apabila terpenuhi akan berdampak kepada kegiatan yang akan dilakukannya sehingga kehidupan yang dijalani akan berjalan dengan baik. 

Aku tidak ingin ikut campur lebih jauh lagi. Jadi, aku memutuskan kembali berbaring dan tidur membelakangi mereka menghadap ke tembok. (Ega : 50)

Tokoh Ega yang merasakan kebutuhan fisiologis yaitu tidur. Percakapan yang terjadi pada Evan dan Pak Bos membuat Ega risih karena mereka membahas persoalan pribadi Evan. Ega memutuskan untuk tidak ikut campur lebih jauh mengenai pembicaraan Evan dengan Pak Bos. Ega lebih memilih untuk tidur karena esok hari harus bangun pagi untuk membuka toko, menjalani aktivitas kuliah, dan sepulang kuliah akan menjaga toko. Manusia untuk melakukan semua aktivitas harus dalam keadaan yang baik. Kebutuhan tidur ini bertujuan untuk memberi waktu istirahat seluruh tubuhnya yang seharian sudah melewati semua aktivitas. 

Dia mengajakku tinggal bersamanya disebuah bengkel. Itu pertama kalinya aku tidur dengan bantal sejak hidup di jalan. Dia lelaki luar biasa. Aku memanggilnya Pak Wira. (Ega : 26)

Tokoh utama Ega yang secara alamiah merasakan kebutuhan fisiologis yaitu kenyamanan tidur dan istirahat. Sebelum Ega tinggal bersama Pak Wira, dia harus merasakan tidur dan tinggal di emperan jalan. Ega merasakan ketidaknyamanan ketika tidur di emperan jalan. Selain tidur dengan seadaanya, Dia harus waspada akan perubahan alam, dan kejahatan sehingga waktu istirahatnya berkurang yang mengakibatkan terhambatnya aktivitas karena kebugaran tubuh yang perlahan menurun. Ega bertemu dengan Pak Wira pada saat Ega terbujur lemas di emperan toko yang kemudian ditolong dan tinggal disebuah bengkel milik Pak Wira. 
                Istirahat dan tidur merupakan sebuah kebutuhan yang harus terpenuhi karena keadaan fisik akan berkurang ketika sudah mengalami aktivitas. Aktivitas akan berjalan normal ketika keadaan fisik dalam situasi prima. Selain kebutuhan fisiologis istirahat dan tidur, Ega juga membutuhkan kebutuhan makan dan air.

nah, ayo sekarang dimakan, kata Pak Bos saat aku sudah duduk di antara mereka. Dia menyodorkan dua mangkuk bakso kehadapanku dan Evan yang masih membisu. Kami pun mulai melahapnya tanpa berkata apa-apa. (Ega : 41-42)

Makanan merupakan kebutuhan utama yang harus terpenuhi oleh setiap manusia untuk menambah tenaga sebelum beraktivitas. Pak Wira meninggalkan Ega dan memberikan surat yang berisi tentang alamat toko Pak Bos yang akan menjadi tempat tinggalnya. Dia bergegas mencari tokoh tersebut karena Ega juga membutuhkan tempat agar dapat menjalani sebagai seorang mahasiswa. Selain menjadikan toko Pak Bos sebagai tempat tinggal, Ega diberikan pekerjaan oleh Pak Bos sebagai pramuniaga toko. Sebelum bekerja, Ega makan-makanan yang sudah disiapkan oleh Pak Bos. Aktivitasnya sehari-hari sebagai mahasiswa dan karyawan toko. Jika seseorang melakukan aktivitas dengan keadaan lapar dapat berdampak pada aktivitas yang akan dilakukannya, seperti ketidakfokusan dan bahkan akan mengakibatkan sakit. Dengan demikian, Ega membutuhkan makanan sebelum melakukan segala kegiatan dan aktivitasnya. 

beberapa saat setelah Ryan pergi, dua porsi nasi soto dan minuman yang dipesannya datang. Aku kehilangan selera, tapi aku belum makan apa-apa dari pagi. Sepertinya aku harus memakan nasi soto ini kalau masih ingin tetap sadar sampai tidur malam nanti. Aku memutuskan untuk mulai makan tanpa menunggu Ryan. (Ega : 92)

Ega sangat membutuhkan makan dan minum untuk kelangsungan hidupnya. Ega menerima traktiran Ryan yang selalu berharap untuk menjadi temannya. Ryan memesan dua makuk soto di kantin kampus dan kemudian meninggalkannya ke toilet. Ega sudah tidak memperdulikan Ryan yang pergi ke toilet. Dia tidak sabar untuk makan-makanan yang sudah dipesan oleh Ryan. Ega khawatir dengan keadaannya, seharian belum makan dan minum apapun. Dia takut tidak sadar jika seharian perutnya kosong dan memutuskan makan tanpa menunggu datangnya Ryan. Secara alamiah manusia akan melakukan aktivitasnya dengan keadaan yang prima, salah satunya adalah makan dan minum sebagai sumber energi. Jika seseorang melakukan aktivitas tanpa adanya energi yang bersumber dari makanan maka segala aktivitasnya akan terhambat.

                “Tidak lucu,” gerutuku. “kamu mau mandi atau tidak? Kalau tidak aku duluan!” aku melangkah melewatinya, mengambil handuk, lalu menuju kamar mandi. (Ega : 28)

Air merupakan kebutuhan fisiologis yang harus diutamakan. Perdebebatan antara Evan dengan Ega terhenti ketika Ega memutuskan untuk mandi. Ega mencoba menawarkan kepada Evan untuk mandi tetapi Evan tidak menjawabnya. Tanpa menunggu jawaban, Ega pun melangkah munuju kamar mandi. Air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan. Manusia akan membutuhkannya karena air dapat digunakan sebagai penyegar tubuh misalnya minum, mandi atau cuci muka sehingga tubuh akan merasa normal kembali. Data lain yang mendukung ialah sebagai berikut.

                Selesai mandi, kulihat Evan sudah tidak ada di kamar. Dia pasti udah turun menemui Pak Bos. Orang seperti Evan tidak akan mati meski dibunuh berkali-kali. (Ega : 41)

Tokoh Ega selesai mandi sebelum dia melanjutkan pekerjaannya sebagai pramuniaga. Ega dengan Evan selalu mengalami pertentangan karena sifat Ega yang selalu sinis dengan Evan. Mereka selalu berdua dalam menjalani aktivitas sebagai mahasiswa dan pelayan toko milik Pak Bos. Ega dan Evan selalu bergantian dalam menjalani aktivitasnya. Makan, minum, dan mandi selalu ada waktu tersendiri di antara mereka. 
                Berdasarkan hasil analisis semua data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis manusia harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan yang lain terpenuhi. Tokoh Ega dalam novel Ega karya Anggie Meisyarah membutuhkan makan, air, dan tidur sebelum melakukan hal-hal yang lain, kebutuhan-kebutuhan tersebut harus terpenuhi dahulu sebelum kebutuhan lain. Sebagai seseorang yang hidup sebatangkara tanpa keluarga, Ega membutuhkan istirahat yang cukup serta makan dan minum untuk melakukan segala aktivitas sebagai mahasiswa dan karyawan toko. Selain kebutuhan dasar fisiologis tokoh Ega juga membutuhkan pemenuhan kebutuhan akan rasa aman
Ø  Kebutuhan akan Rasa Aman
                Setelah kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi atau terpuaskan, maka dalam diri seseorang akan muncul satu kebutuhan lain yaitu kebutuhan akan rasa aman (neet for self-security). Menurut Maslow (dalam Koswara 1991 : 120-121) kebutuhan akan rasa aman ialah sesuatu kebutuhan yang mendorong seseorang untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan-keteraturan dari keadaan lingkungan.
Kebutuhan akan rasa aman juga dapat terjadi apabila seseorang dihadapkan pada keadaan-keadaan atau suatu yang terdesak seperti perang, kejahatan, kerusuhan, serta gangguan dari alam. Kebutuhan akan rasa aman yang terjadi pada tokoh Ega dalam novel Ega karya Anggi Meisyarah sebagai berikut.

Jangan melihat aku seperti itu! Katanya sambil melemparkan benda yang ada di tangannya ke arahku. Sebuah sendok tepat menabrak keningku. Perih, tapi tidak seperih hatiku saat itu. Aku terdiam, membisu, tidak mengerti letak kesalahanku. (Ega : 17)

Ega merasa terancam dengan perlakuan mamanya. Ega yang selalu memperhatikan keadaan mamanya yang semakin hari semakin tidak wajar mendapatkan sebuah respon negatif dari mamanya. Dia membentak dan melemparkan sebuah sendok kepada Ega karena telah memandanginya. Pada umumnya anak-anak mengharapkan perlindungan dari orang yang lebih tua karena dimasa anak-anak untuk melakukan perlindungan diri sendiri sangat sulit. Ega bingung dengan perlakuan mamanya, orang tua yang semsetinya menyayangi, menjaga, dan merawatnya telah melakukan kekerasan. Disaat itu tokoh Ega menginginkan seseorang yang dapat melindungi, menenangkan, dan memberi sebuah keamanan agar dapat hidup dengan tenang.

Kamu ini sebenarnya apa hah?! Kenapa kamu membuat keluargaku tidak bahagia? Mama melayangkan telapak tangannya ke pipiku sangat keras hingga pipiku terasa panas. (Ega : 18-19)

Ega membutuhkan rasa aman ketika mendapatkan kekerasan dari mamanya. Ega membutuhkan kasih sayang dari mamanya agar merasa aman dan nyaman. Pemikiran mama terhadap Ega sebagai sumber masalah dalam keluarga telah memberikan sebuah tindakan kekerasan terhadapnya. Ega merasa mamanya sudah tidak seperti dulu yang selalu memberi kenyamanan terhadapnya. 

                Selain membutuhkan rasa aman, Ega juga ingin mendapatkan kepastian dalam hidupnya. Data yang mendukung pernyataan tersebut ialah sebagai berikut.
                
Sejak kejadian yang menimpaku dan keluargaku, aku sudah melupakan semua hal yang dapat membuatku bahagia. Aku bahkan tidak bisa lagi membedakan mana hal menyenangkan dan mana hal tidak menyenangkan. Aku benar-benar hancur berantakan sampai aku bingung bagaimana cara menyusunnya kembali. (Ega : 47)

Tokoh Ega menginginkan kepastian dalam kehidupan. Permasalahan yang menimpa keluarga Ega, membuatnya kehilangan untuk mengontrol hidup. Dia ingin mendapatkan kepastian hidup agar tidak mengalami hal yang sebelumnya terjadi. Trauma yang dialami Ega memberikan dampak sangat buruk terhadapnya. Data lain yang mendukung ialah sebagai  berikut.
                
                “lebih baik aku terlahir tanpa perasaan saja. Gila pun tidak apa-apa, yang penting aku tidak perlu merasakan kepedihan seperti ini,” batinku. (Ega : 47)

Kejadian yang menimpa keluarga Ega memunculkan pemikiran yang negatif. Ega menganggap terlahir dengan kondisi gila menjadi kepastian dalam hidup agar tidak merasakan kepedihan dalam perjalanan hidupnya. Pemikiran tersebut muncul karena trauma yang dialami. Data lain mengenai kebutuhan rasa aman dalam kepastian ialah sebagai berikut.
                Selain kebutuhan rasa aman dalam kepastian, tokoh Ega juga membutuhkan kebutuhan rasa aman dalam ketentraman. Data yang mendukung pernyataan tersebut ialah sebagai berikut.

                “Anak ini cari mati, ya?!” kata salah satu di antara mereka. “kamu sudah bosan hidup?!” salah seorang lagi tidak mau ketinggalan bersikap sok hebat. (Ega : 52)

Tokoh Ega mendapatkan tekanan terhadap kakak senior. Awal masuk kuliah, Ega sudah mendapatkan situasi yang tidak nyaman dari para senior kampus. Terlihat pada data ada sebuah ancaman kekerasan yang diarahkan kepada Ega. Kampus merupakan tempat untuk mendapatkan ilmu akademik, teman, dan ketentraman. Akan tetapi, Ega tidak mendapatkan ketentraman dalam menjalani perkuliahannya. Banyak senior yang ingin berbuat semenah-menah trehadap mahasiswa baru. Apabila kejadian tersebut terus terulang maka yang terjadi akan menimbulkan kondisi yang selalu terancam dan tidak tenang dalam menjalani hidup sebagai mahasiswa. Data lain yang mendukung ialah sebagai berikut.
                Berdasarkan hasil analisis dari data-data tersebut, kebutuhan akan rasa aman dirasakan oleh tokoh Ega dengan meminta sebuah kepastian rasa sayang kepada mamanya serta pembelaan yang dilakukan oleh orang-orang yang melihat Ega yang terancam keselamatannya. Tokoh Ega juga mendapatkan kebutuhan akan rasa aman dalam kepastian dan ketentraman yaitu ketika ingin mengetahui keadaan Pak Wira dan melepaskan tekanan dari ancaman senior kampus. Ketika kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis seseorang sudah terpenuhi, maka seseorang akan membutuhkan kebutuhan lain yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman. Tokoh Ega membutuhkan rasa aman setelah kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi. Merasa terdesak akan sebuah keadaan yang di alami Ega serta ingin mendapatkan kepastian akan rasa sayang yang dimiliki mamanya merupakan kebutuhan rasa aman yang diinginkan oleh setiap orang. Selain kebutuhan akan rasa aman toko Ega juga membutuhkan kebutuhan akan cinta dan memiliki.
Ø  Kebutuhan akan Cinta dan Memiliki
Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki merupakan suatu kebutuhan yang mendorong manusia untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan manusia lain baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlainan jenis di lingkungan keluarga maupun di lingkungan kelompok masyarakat. Kebutuhan akan cinta akan mengacu oada keinginan untuk mencintai dan dicintai.
Menurut Maslow (dalam Koswara 1991 : 124) rasa cinta tersebut merupakan hal alamiah bagi perasaan yang sehat, tanpa adanya rasa cinta seseorang akan dikuasai oleh perasaan benci, rasa tak berharga, serta kehampaan. Kebutuhan akan cinta dan memiliki yang dialami oleh tokoh Ega dalam novel Ega karya Anggie Meisyarah sebagai berikut.

“ Tidak ada tempat lain yang lebih cocok untukku selain disini, lagi-lagi ada sesuatu yang membuatku tersenyum, sesuatu yang rasanya sangat menyenangkan. Ada sensasi luar biasa yang menyenangkan dan menjalar ke sekujur tubuhku. (Ega : 172)

Ega memiliki ikatan cinta dan memiliki dengan teman karyawan dan Pak Bos. Sebelum Ega bekerja dan tinggal di toko milik Pak Ridwan. Ega lebih sering sendirian karena dia merasa orang-orang sekitar tidak memperdulikannya. Akan tetapi, setelah dia masuk di perguruan tinggi dan bekerja di toko Pak Bos. Ega mulai merasakan ikatan keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang. Hal itu dapat ditunjukkan pada data yang menyatakan Ega merasa ada sesuatu yang membuatnya tersenyum dan seseuatu yang rasanya sangat menyenangkan. Tersenyum dan menyenangkan sudah dapat mewakili bahwa ada yang spesial terhadap lingkungan sekitarnya. Sehingga secara tidak langsung ungkapan tersebut sebagi simbol kebutuhan akan cinta dan memiliki yang dirasakan Ega.

Benar-benar tidak terasa sudah hampir setahun aku hidup bersama Pak Bos dan Evan. Sekarang mereka sudah bukan orang lain lagi bagiku. Pak Bos bahkan hampir setiap malam meneleponku Cuma untuk mengingatkanku agar aku tidak lupa minum susu. (Ega : 177)

Ega membutuhkan rasa cinta dan memiliki. Perhatian seseorang merupakan sebuah perasaan batin yang saling terikat, melengkapi, dan memiliki. Setahun terbiasa berkomunikasi dengan teman kerja dan pemilik toko. Ega merasakan sebuah kondisi yang baginya sangat spesial. Evan dan Pak Bos selalu memperhatikan dan peduli dengan Ega. Pada awalnya, Ega tidak mempercayai semua kebaikan orang terdekatnya. Akan tetapi, dia sadar prilaku yang dilakukan oleh teman dan Pak Bos merupakan bentuk sayang dan ikatan kekeluarga yang bersifat saling memiliki. Secara alamiah manusia akan memperhatikan sekelilingnya yang akan memunculkan sebuah perasaan perhatian. Dari perasaan perhatian ini seseorang akan merasakan saling memiliki sehingga terikatlah sebuah hubungan kekeluargaan.
Selain membutuhkan hasrat saling memiliki dalam sebuah ikatan hubungan berkelompok, hasrat untuk mencintai juga dibutuhkan Ega baik cinta terhadap lawan jenis maupun cinta sesama jenis. Rasa cinta terhadap lawan jenis merupakan kebutuhan-kebutuhan yang ingin dicapai oleh Ega. 

Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku, saat melihat Luna, selalu muncul perasaan yang sangat kuat. Perasaan ingin melindungi. Rasanya aku harus selalu berada didekatnya dan mengawasinya. Aku ingin bisa melindunginya di saat dia membutuhkanku. (Ega : 202)

Ega merasakan ada cinta di dirinya ketika melihat Luna. Ega merasakan perasaan yang tidak biasa. Rasa ingin melindungi selalu di bayangannya. Sejak dulu Ega hidup sendiri tanpa keluarga. Ega merasa tidak butuh akan adanya sebuah ikatan keluarga, pacar, dan ikatan spesial lainnya. Akan tetapi, Ega mulai membuka jalan pemikirannya setelah bertemu dengan Pak Wira, Pak Bos, Evan, dan Ryan. Sejak itu, Ega mulai kembali memperhatikan sekelilingnya. Prasaan ingin melindungi Luna merupakan bentuk pemuasan kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki.
                Selain membutuhkan hasrat mencintai, hasrat untuk dicintai juga dibutuhkan Ega baik cinta di lingkungan keluarga atau pun lingkungan kelompok di masyarakat.

Aku menyayangimu, kata Pak Wira  begitu saja. Darahku langsung berdesir hangat sampai ke ujung jari. “Aku sangat menyayangimu seperti anakku sendiri. Akau tidak mau melihatmu sedih. Aku tidak tahu kalau melihatmu bersedih. Kamu mengerti?hiduplah dengan baik, ya?” dia mengatakan itu lagi. (Ega : 64)

Rasa cinta Pak Wira terhadap Ega. Pak Wira menganggap Ega seperti anak sendiri yang selalu disayangi. Hal itu muncul karena prihatin oleh keadaan Ega yang selalu tertimpa musibah. Kata sayang yang diungkapkan oleh Pak Wira membuat Ega bahagia. Rasa sayang dapat muncul ketika seseorang terbiasa bersama, berkomunikasi, dan memperhatikan. Pak Wira yang pernah hidup bersama Ega memberikan kesan tersendiri. Ega merasakan ikatan keluarga terhadap Pak Wira yang selalu memperhatikannya dan menata kepribadian Ega. Kata sayang yang diungkapkan oleh Pak Wira merupakan bentuk rasa cinta terhadap Ega sehingga tokoh Ega memenuhi kebutuhan akan cinta dan memiliki.

Aku senang karena kamu dan keluargamu mau menerimaku, tapi memang aku ingin tetap seperti ini saja, jelasku. Tetap seperti ini. Aku sudah punya rumah untuk pulang. Aku memiliki Pak Bos, Bu Dian, Evan dan juga kamu. Kalianlah keluargaku sekarang dan aku tidak  perlu pindah ke mana pun lagi. (Ega : 203)

Ega membutuhkan rasa dicintai oleh kelompok masyarakat. Keluarga Ryan yang meminta Ega untuk tinggal bersama mereka merupakan bentuk sebuah ikatan cinta oleh masyarakat. Akan tetapi, Ega sudah merasa nyaman dengan tinggal bersama Pak Bos dan Evan. Ega yang sudah terbiasa tinggal dengan Pak Bos dan Evan masih jadi pilihan utama. Keputusan Ega tersebut bukan menolak niat baik orang, bagi Ega tidak tinggal dengan keluarga Ryan, Ega masih dapat berhubungan baik dengan mereka. Penawaran keluarga Ryan merupakan tindakan bahwa Ega mendapatkan perhatian khusus dari keluarga Ryan. Perhatian seseorang merupakan perwakilan dari ikatan sayang itu sendiri.
                Dari hasil analisis data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan cinta dan memiliki juga sangat dibutuhkan oleh seseorang. Tokoh Ega mendapatkan rasa cinta dan memiliki dari orang-orang yang tinggal bersamanya. Pak Bos, Evan, dan Ryan yang senantiasa memberikan rasa cinta dan saling memiliki. Ega menyadari bahwa orang sekitar telah memperdulikannya. Dia juga dapat merasakan cinta kepada Luna, Pak Wira, Pak Bos, Evan, dan Ryan sehingga kebutuhan akan cinta dan memiliki terpenuhi secara maksimal. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi maka seseorang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya yaitu kebutuhan akan rasa harga diri.
Ø  Kebutuhan akan Rasa Harga Diri
Kebutuhan ini dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri dan bagian kedua adalah penghormatan dari orang lain. Bagian pertama mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian, dan kebebasan. Bagian kedua meliputi prestasi yang diraihnya dan membutuhkan penghargaan dari orang lain atas apa yang dilakukannya.
Menurut Maslow (dalam Koswara 1991 : 125) kebutuhan akan rasa harga diri yang sehat lebih didasarkan pada prestasi, rasa harga diri seseorang yang sehat merupakan hasil dari usaha yang bersangkutan. Kebutuhan akan rasa harga diri yang terjadi pada tokoh Ega dalam novel Ega karya Anggie Meisyarah sebagai berikut.

yang kamu sebut melewatkan waktu bersama itu karena kamu selalu mengikutiku kemana-mana. Aku tidak punya waktu untuk main teman-temanan denganmu. Aku tidak peduli denganmu, dengan senior-senior yang mengganggumu, dan dengan semua orang. (Ega : 58)

Ega menginginkan kebebasan dalam sebuah kehidupan. Ega selalu menolak semua ikatan pertemanan dan persaudaraan. Ega yakin hidup sendiri merupakan sebuah kebebasan mutlak yang akan dijalaninya. Ryan yang selalu mengikuti Ega membuatnya risih, sehingga Ega memberikan penjelasan kepada Ryan bahwa usaha yang dilakukan Ryan tidak pernah dianggap sebagai teman. 

Aku terus mencoba meyakinkan diri kalau aku akan baik-baik saja. Aku hidup di jalanan, makan dari sisa orang lain, mengemis, menjadikan emperan toko sebagai atapku. (Ega : 26)

Tokoh Ega mencoba meyakinkan dirinya sanggup mandiri dengan hidup tanpa pertolongan orang lain. Ega meninggalkan keluarganya yang telah hancur karena sebuah permasalahan yang dihadapi. Dia harus bertahan hidup dengan segala cara. Hal itu semata-mata hanya untuk membuktikan bahwa Ega dapat mandiri dan membuktikan kekuatan pribadinya. Tindakan yang dilakukan Ega merupakan kebutuhan akan rasa harga diri untuk membuktikan kemandiriannya.

“Maaf, cari orang lain saja,” tukasku cepat. Aku tidak bisa membayangkan berkeliaran membawa keranjang berwarna pink dengan renda putih dan menjajakan bunga ke orang-orang. Lebih baik aku minum racun serangga saja. Lagi pula aku tidak terima dibilang cowok imut. Itu kedengarannya menjijikkan. (Ega : 68)

Ega membuktikan sebuah harga diri sangat berarti pada diri manusia. Harga diri merupakan simbol identitas individu seseorang yang dapat meberikan sebuah dorongan ideal dirinya. Melalui harga diri pula seseorang dapat menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten. Ega menolak para senior yang menyuruhnya untuk menjual bunga dihari wisuda. Dia membayangkan bagaimana seorang pria akan menjual bunga ke orang-orang. Pada dasarnya bunga merupakan simbol keanggunan untuk wanita. Ega merasa harga dirinya dilecehkan apabila harus menjual bunga. Ega sangat menolak keras permintaan para senior kampus. Senior yang mendengar penolakan Ega mencoba memaksa agar bersedia untuk menjualkan bunganya. Usaha tersebut tidak meberikan hasil, Ega tetap menolaknya.

Aku kan Cuma mau cari teman. Kamu jadi orang jangan terlalu serius. Kita bakalan jadi teman sekelas, lho. Memangnya kamu tidak mau punya teman? Tanyanya. “aku tidak berteman dengan siapa pun,” tegasku (Ega : 32)

Ega ingin meraih kebebasan tanpa adanya sebuah ikatan. Ega mengalami sebuah trauma karena kehancuran keluarganya. Dia menilai bahwa manusia yang memiliki ikatan antar individu hanya akan memberikan sebuah hambatan. Setelah kematian orang tuanya dan kakak kandung yang meninggalkannya, Ega memutuskan akan hidup sendiri dengan bebas tanpa adanya ikatan apa pun. Disaat pertama masuk perkuliahan Ega menolak seseorang yang ingin mencoba mengajaknya berkenalan dan menjalin sebuah ikatan pertemanan. Dia menganggap pertemanan hanya akan menghambat jalan hidupnya dan tidak memberikan ruang kebebasan. 
           Untuk mencapai kebutuhan akan rasa harga diri bukan hanya mengenai kebebasan, kemandirian, dan harga diri saja. Individu harus mencapai kebutuhan akan harga diri yang sehat melalui prestasi, status, atau keturunan. Dengan kata lain, rasa harga diri individu yang sehat adalah hasil usaha individu yang bersangkutan. Data yang mendukung pernyataan tersebut ialah sebagai berikut.

                Pak Wira membantuku mencarikan beasiswa agar aku bisa kembali sekolah. Dia punya seorang teman yang bekerja di dinas pendidikan. Dia membuatkan proposal dengan melampirkan prestasiku  hingga akhirnya  aku berhasil melanjutkan sekolah dengan mengandalkan beasiswa dari pemerintah daerah. Aku mempertahankan setiap nilai mata pelajaranku agar tetap diatas rata-rata. Aku mendapatkan biaya sekolah sampai tamat SMA. (Ega : 26-27)

Ega dapat membuktikan bahwa dirinya layak mendapatkan beasiswa melalui prestasinya. Pak Wira merupakan orang yang menolong Ega untuk memberikan sebuah tempat tinggal, pekerjaan, dan mencarikan beasiswa prestasi agar dapat melanjutkan sekolah SMA. Sejak sekolah dasar hingga SMP Ega merupakan siswa yang teladan dan berprestasi. Dia terhambat untuk meneruskan ke sekolah ketingkat selanjutnya ketika keluarganya berantakan. Pak Wira yang mengetahui prestasi akademiknya berusaha mencarikan beasiswa agar dapat meneruskan pendidikan ke jenjang SMA. Melalui dinas pendidikan Ega berhasil mendapatkan beasiswa prestasi dan berhak melanjutkan disalah satu SMA di Jakarta.

Pada saat bersamaan, sekolah merekomendasikanku untuk memperebutkan beasiswa dari salah satu perusahaan minyak terbesar di Indonesia. Dari sekian banyak peserta tes, hanya beberapa orang yang akan terpilih mendapatkan biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi selama empat tahun. Aku adalah salah satu di antara mereka. (Ega : 27 )

Ega layak menjadi salah satu kandidat siswa yang berprestasi untuk diikutsertakan memperebutkan beasiswa kuliah. Sekolah menghargai dan mengapresiasi usaha Ega selama menjalani pendidikan di SMA atas prestasinya. Dia direkomendasikan menjadi salah satu siswa untuk memperebutkan beasiswa dari perusahaan minyak terbesar di Indonesia. Beasiswa tersebut telah dicapai oleh Ega. Dari sekian banya peserta tes, hanya beberapa orang yang akan terpilih mendapatkan biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi selama empat tahun. Ega menjadi salah satu di antara mereka yang berhak melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi jakarta. Data tersebut dapat didukung oleh data berikut.
           Untuk mencapai sebuah pengakuan prestasi atas usaha yang dilakukan, bukan hanya dapat dilihat dari sebuah hasil pengakuan akademis melainkan dapat juga pengakuan mengenai dirinya yang lain. Data yang mendukung pernyataan tersebut ialah sebagai berikut.

“Kamu memang temanku yang paling baik, Ega. Aku sangat menghargai bantuanmu. Terima kasih banyak, Ega, temanku. Ryan memelas dan menatapku dengan rasa haru. (Ega : 71)

Ega mendapatkan pengakuan atas usahanya yang dapat meringankan dan membantu temannya. Ryan menghargai usaha Ega yang mencoba memberikan bahan untuk dipelajarinya. Menghargai merupakan sebuah apresiasi yang positif sehingga dapat digolongkan sebuah prestasi. Ryan yang mendapatkan tugas kelompok merasa bingung karena bahan untuk tugas kelompok tidak dimemilikinya. Ega yang memperhatikan Ryan mecoba menawarkan bantuan kepadanya. Ryan merespon niat  baik Ega dengan menerima bantuan darinya. Tindakan Ega di apresisai oleh Ryan yang kemudian berterima kasih dan menganggapnya sebagai teman terbaik.
                Berdasarkan hasil analisis data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan rasa harga diri akan muncul ketika kebutuhan-kebuthan yang berada di bawahnya telah terpenuhi. Kebutuhan-kebuthan lain yang berada di bawahnya yaitu kebutuhan dasar fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, serta kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki. Setelah ketiga kebutuhan tersebut terpenuhi maka kebutuhan akan rasa harga diri akan dialami oleh setiap individu. Kebutuhan akan rasa harga diri merupakan kebutuhan untuk mendapatkan apresiasi dari orang lain dan dirinya sendiri serta membutuhkan ketenangan dalam hidup. Tokoh Ega dapat memenuhi kebutuhan akan rasa harga diri yang meliputi percaya diri, kekuatan pribadi, kemandirian, kebebasan, dan prestasi atas usaha yang dilakukan. Setelah kebutuhan akan rasa harga diri tokoh Ega juga membutuhkan kebutuhan yang lebih tinggi pemuasannya yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri.
Ø  Kebutuhan akan Aktualisasi Diri
Kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kebutuhan untuk mengungkapkan diri. Kebutuhan ini akan muncul apabila kebutuhan-kebutuhan yang ada di bawahnya telah terpuaskan dengan baik. Kebutuhan akan aktualisasi diri ditandai sebagai hasrat individu  untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya atau hasrat dari individu untuk menyempurnakan dirinya melalui pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya.
Maslow (dalam Koswara 1991 : 125) mengatakan bahwa aktualisasi diri itu tidak hanya berupa penciptaan kreasi atau karya-karya berdasarkan bakat-bakat atau kemampuan-kemampuan khusus. Orang tua, mahasiswa, dosen, serta buruh pun bisa mengaktualisasikan diri mereka, yaitu dengan cara berbuat yang terbaik, atau bekerja sebaik-baiknya pada pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kebutuhan akan aktualisasi diri toko Ega dalam novel Ega karya Anggie Mesiyarah ialah sebagai berikut.

sudahlah, Pak Bos. Percuma kamu mendesakku seperti itu. Aku sama sekali tidak berpikir untuk melaksanakannya. Kenapa aku harus salat dan peduli dengan agama, Tuhan, dan semacamnya? apa yang mereka sebut Tuhan itu juga tidak pernah melihatku. (Ega : 40-41)

Kebutuhan akan aktualisasi diri tokoh Ega. Ega menolak kemauan dan permintaan Pak Bos. Aktualisasi diri merupakan hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginannya. Keinginan Ega untuk hidup bebas menjadi prioritas utama. Dia menganggap semua aturan pada kehidupan akan mempersulit dalam menjalani hidup. Ega tidak mempercayai agama dan keberadaan Tuhan, dan norma-norma hidup yang harus hidup berdampingan, saling peduli, dan membantu satu sama lain. Ega berpegang teguh dengan apa yang diinginkan yaitu kebebasan tanpa ikatan untuk menjalani hidup. 
Data lain yang merupakan kebutuhan akan aktualisasi diri tokoh utama Ega ialah sebagai berikut.

“aku bisa sendirian. Kamu tenang saja. Aku bisa jaga diri dan aku bisa bertahan sendirian. Dulu aku baik-baik saja meskipun kamu tidak ada”. (Ega : 171)

Kebutuhan akan aktualisasi diri tokoh Ega. Ega ingin menjadi diri yang seperti diinginkan. Dia menginginkan hidup tanpa bantuan dan akan berusaha semampunya untuk menjalani hidup. Ega sudah terbiasa hidup sendiri. Ega menolak ajakan kakaknya untuk tinggal bersama. Kak Hana yang merasa bersalah yang telah menelantarkan Ega sejak kematian orang tua mencoba menebus kesalahannya. Akan tetapi, usaha kak Hana tidak menuai hasil. Ega masih menginginkan dan membuktikan akan baik-baik saja. 
                Manusia dalam menjalani hidup dan menemukan jati diri demi memenuhi kebutuhan akan aktualisasinya kerap kali merubah-ubah segala pemikirannya. Jati diri seseorang akan terlihat ketika manusia sudah menemukan kenyamanan dalam kehidupannya. Setelah seseorang merasa puas dan nyaman dengan apa yang diinginkan maka individu tersebut akan menjadikan pedoman teguh dalam hidupnya sehingga kebutuhan akan aktualisasi diri terpenuhi. Data yang mendukung pernyataan tersebut ialah sebagai berikut.

Kadang aku sadar kalau aku sudah sering keterlaluan mengatainya bodoh. Mungkin besok aku harus mulai mengurangi kata-kata kasar, khususnya terhadap Ryan. Kalau dipikir-pikir, kasihan juga dia setiap hari didoain jadi bodoh. (Ega : 205)

Kebutuhan akan aktualisasi diri tokoh Ega. Ega mencoba merubah semua kelakuan kasarnya. Selama Ega berteman dengan Ryan dia selalu memperlakukannya dengan seenaknya. Hal itu dilakukan karena Ega tidak begitu mempercayai ikatan pertemanan. Setahun tinggal dengan Pak Bos dia mulai menyadari segala tindakannya merugikan orang lain. Ega merasa bersalah apabila harus melakukan kekasaran terhadap Ryan dan orang lain. Dia berkomitmen agar dia berusaha merubah kebiasaan jeleknya. 
Data lain yang mendukung kebutuhan akan aktualisasi diri ialah sebagai berikut.

Oh, Tuhan.....
Terima kasih....
Aku telah menemukan diriku tidak sendiri lagi.
Ternyata aku memang tidak pernah sendirian.
Aku akan hidup dengan baik.... (Ega : 205)

Ega mulai menyadari segala perlakuannya selama ini hanya memberikan dampak negatif terhadap sekitarnya. Dia sudah mempercayai keberadaan Tuhan. Usaha Pak Bos dan sahabat-sahabat Ega untuk menyadarkan bagaimana jati diri Ega membuahkan hasil. Ega mulai merubah semua perilaku buruknya. Dia berjanji bahwa akan hidup dengan baik dan membenahi semua perilaku buruk dimasa lalunya. Sebuah keputusan yang diambil oleh Ega untuk menjadi lebih baik lagi merupakan bentuk hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginannya dan memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri.
                Berdasarkan analisis psikologi humanistik dalam novel Ega karya Anggie Meisyarah tersebut, dapat diketahui bahwa manusia akan memenuhi semua hasrat yang diinginkan. Namun untuk memenuhi hasrat dalam mencapai kebutuhan yang diinginkan harus menghadapi berbagai macam tantangan hidup. Permasalahan yang dialami oleh tokoh utama Ega membuat dirinya perlahan memenuhi semua tingkatan kebutuhan. Tingkatan-tingkatan ini akan menjadi hambatan tokoh utama dikarenakan perubahan pedoman hidup dan kerasnya kehidupan. Tokoh Ega sudah dapat membuktikan bahwa tingkatan kebutuhan sudah terpenuhi diantaranya kebutuhan istirahat, makan, dan minum yang termasuk pada kebutuhan dasar fisiologis, selain kebutuhan tersebut tokoh Ega juga mengalami kekerasan serta pembelaan yang dilakukan oleh kakak kandungnya yang termasuk tingkatan kebutuhan akan rasa aman. Tokoh Ega juga mengalami situasi yang memerlukan perasaan dicintai dan mencintai yang termasuk tingkatan kebutuhan akan cinta dan memiliki. Tokoh Ega juga mengalami keadaan yang membutuhkan percaya diri, kekuatan pribadi, kemandirian, kebebasan, dan prestasi atas usaha yang dilakukan yang termasuk kebutuhan akan rasa harga diri. Selain kebutuhan tersebut tokoh Ega juga mengalami suatu keadaan untuk menjadikan dirinya sesuai keinginan yaitu menjadi orang yang lebih baik lagi yang tergolong pada pemuasan kebutuhan aktualisasi diri. Tingkatan kebutuhan tersebut hanya bersifat sementara, itu terjadi karena merupakan sifat alamiah manusia yang tidak akan pernah terpuaskan.
Hehhehehe.. panjang demi kejelasan teori dan pengaplikasian terhadap karya. Teori ini juga dapat diterapkan pada karya-karya lain selain novel.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teori Psikologi Humanistik"

Posting Komentar