loading...

MAKALAH RIZKI SUBBEH PENDEKATAN STILISTIKA DALAM PUISI “BIARIN!’ KARYA YUDHISTIRA ADINUGRAHA MASSARDI



 MAKALAH RIZKI SUBBEH

PENDEKATAN STILISTIKA DALAM PUISI “BIARIN" KARYA YUDHISTIRA ADINUGRAHA MASSARDI




PENDAHULUAN
Melalui gaya bahasa sastra, bahasa dan sastra berjalan seiring dan bahu-membahu sampai mewujudkan dunianya sendiri. Gaya bahasa sastra pada akhirnya memiliki kekhasan dan karenanya menyimpang autonomy of the aestenic. Kekuatan estetik yang mandiri ini seakan-akan gaya bahasa memiliki wilayah yang kuat. Gaya bahasa sastra menjadi berbeda dengan gaya sastra keseharian orang bicara. Oleh karena itu peneliti menggunakan aspek stilistika untuk mengkajinya.
Secara etimologi stylistics berhubungan dengan kata style, artinya gaya, sedangkan stylistics dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Stilistika adalah ilmu pemanfaatkan bahasa dalam karya sastra. Gaya bahasa menurut Enkvist (Sayuti, 1994:210) ada enam pengertian yaitu: (a) bungkus yang membungkus inti pemikiran atau pernyataan yang telah ada sebelumnya, (b) pilihan di atara beragam pernyataan yang mungkin, (c) sekumpulan ciri kolektif, (d) penyimpangan norma atau kaidah, (e) sekumpulan ciri pribadi, dan (f) hubungan sebuah kalimat. Yang penting dan harus dipahami, gaya bahasa adalah style as choise, style as meaning, dan stele as tension between meaning and form.
Bahasa sastra adalah bahasa yang khas. Yakni bahasa yang telah direkayasa dan dipoles  sedemikian rupa. Melalui polesan itu muncullah gaya bahasa yang unik. Pradopo (1991:1) nilai seni sastra ditentukan oleh gaya bahasanya. Pengarang seharunya berupaya mencipta gaya bahasa untuk keistimewaan karyanya.
Yudhistira Adinugraha Massardi adalah salah seorang sastrawan yang mempertimbangkan stilititika dalam penciptaan karyanya khususnya puisi yang berjudul Biarin! puisi ini bernada main-main, mirip dengan puisi mbeling. Kekhasan bahasa yang diperlihatkan  dalam puisi itu menunjukkan keindahan penyusunan bahasanya. Dengan adanya itu maka kami melakukan penelitian menggunakan pendekatan stilistika untuk membuktikan keindahan, kekhasan, serta pemaknaan yang timbul dari bunyi-bunyi, kata-kata, dan lari dalam bait yang tersusun dengan indah.




LANDASAN TEORI
Stilistika adalah cabang atau genus (bahasa latin) dari ilmu bahasa yang mempelajari karateristik dari sebuah penggunaan bahasa yang biasanya berhubungan pula dengan sebuah karya sastra. Karya sastra memiliki fungsi yang berkaitan erat dengan ilmu gaya bahasa (stilitika). Yang menjadi bagian penting dalam ilmu stilistika adalah pilihan yang digunakan oleh seorang atau sekelompok masyarakat dalam menggunakan bahasa mereka. Pendekatan stilistika di dalam kritik sastra bertolak dari pandangan bahwa isi pokok karya sastra itu ada dua, yang pertama adalah bahasa dan kedua adalah isi yang berupa tema, pemikiran, dan falsafah. Pendekatan stilistika menganut paham bahwa unsur pokok sastra adalah bahasa. Bahasa yang digunakan dalam karya sastra itu mempunyai kaitan pula dengan sastrawan. Sastrawan mengerahkan kemampuan dan kreativitas masing-masing dalam menciptakan karya mereka. Dengan kata lain, pendekatan stilistika berarti asumsi dasar yang digunakan oleh kritikus dalam menilai suatu karya sastra ditinjau dari segi kebahasaannya.
Menurut Abrams dalam (Nurgiyantoro, 1998:280) stilistika kesastraan merupakan sebuah metode analisis karya sastra yang mengkaji berbagai bentuk dan tanda-tanda kebahasaan yang digunakan seperti yang terlihat pada struktur laihirnya. Metode analisis ini menjadi penting, karena dapat memberikan informasi tentang karakteristik khusus sebuah karya sastra. Bahkan, menurut Wellek dan Warren, ia dapat memberikan manfaat yang besar bagi studi sastra jika dapat menentukan prisip yang mendasari kesatuan karya sastra, dan jika dapat menemukan suatu tujuan estetika umum yang menonjol dalam sebuah karya sastra dari keseluruhan unsurnya.
Kajian Stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan objektif. Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sistem tanda dalam karya sastra yang diperoleh secara rasional-empiris dapat dipertanggungjawabkan. Landasan empiris merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran kajian.
Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati, memahami, dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang.
Dari penjelasan selintas di atas dapat ditarik kesimpulan tentang analisis yang dilakukan apresiasi sastra meliputi: analisis tanda baca yang digunakan pengarang, analisis hubungan antara sistem tanda yang satu dengan yang lainnya, analisis kemungkinan terjemahan satuan tanda yang ditentukan serta kemungkinan bentuk ekspresi yang dikandungnya (Aminuddin, 1995 :98).
Kaitannya dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk menghindari kritik sastra yang bersifat impesionistis dan subjektif. Melalui kajian stilistika ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria objektifitas dan keilmiahan (Aminuddin, 1995 : 42).
Gaya bahasa dalam sebuah karya sastra memiliki ciri-ciri yaitu: Foregrounding adalah melakukan pemberdayaan segenap potensi bahasa dengan mengeksploitasi dan memanipulasinya agar tercipta bentuk-bentuk bahasa yang unik dan khas, inovatif, serta inkonfensional, yang tidak nisa ditemukan dalam bahasa karya lain.
Menurut Shklovsky, bahasa dibuat defamiliarisasi, yakni sesuatu dibuat tidak familiar, tidak biasa, tidak dikenal. Sedangkan deotomatisasi adalah hubungan antara lambing dengan makna tidak secara otomatis, yang dilakukan dengan melanggar konfensi bahasa. Jika perlu, gaya bahasa oleh pengarangnya sengaja diciptakan sedemikian rupa, dengan menyimpangi kaidah bahasa yang berlaku.




PEMBAHASAN
Biarin!

kamu bilang hidup ini berengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu
tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana
cuma karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti
itu

kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin

soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka sebab itu
aku rampok hati kamu. Toh nggak ada yang nggak ngerampok di dunia
ini. Iya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi
habisnya, kalau nggak bilang begitu mau jadi apa coba
bunuh diri? Itu lebih berengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan
seperti kamu sehari sekarang ini

kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
kamu bilang itu menyakitkan

Yudhistira Adinugraha Massardi
Sajak Sikat Gigi, 1974

Puisi Biarin! karya Yudhistira ini memiliki gaya bahasa yang khas nampak pada setiap bait-baitnya. Selain itu puisi ini berkesan puisi mbeling yang bernada cuek (masa bodoh) yang dikomentari dengan kata biarin.
Pendekatan stilistika juga dikaitkan dengan analisis perwatakan. Hal ini penting, karena bahasa mempunyai kaitan dengan karakter tokoh. Selain itu, perwatakan atau perilaku pengarang juga senantiasa tercermin dari bahasa yang digunakan.
Biarin!

kamu bilang hidup ini berengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

Dari bait pertama dapat dilihat terdapat gaya bahasa repetisi vertikal (pengulangan) pada setiap lariknya yaitu kamu bilang dan diakhir larik juga terdapat repetisi vertikal Aku bilang biarin. Jika ditinjau dari segi bunyi yang dihasilkan karena hasil repetisi inilah yang menimbulkan kesan keindahan sekaligus menimbulkan efek penegasan pada karekter tokoh Aku. Tokoh kamu dalam larik pertama menggunakan gaya bahasa sarkasme (sindiran langsung dan kasar) yang terdapat pada kata berengsek. Pada setiap lariknya pula menggunakan gaya bahasa paralelisme, yakni pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu
tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana
cuma karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti
itu
Pada keseluruhan bait ini menggunakan gaya bahasa klimaks yang menggungkapkan karakter tokoh kamu dari ucapan tokoh Aku. Klimaks adalah penampakkan pikiran atau hal yang berturut-turut dari yang sederhana meningkat pada hal yang lebih kompleks.
kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin
Pada bait ketiga ini tidak berbeda jauh dengan bait pertama menggunakan  gaya bahasa repetisi vertikal, dan sarkasme. Sarkasme ditunjukkan dari kata bajingan dan perampok.  Tokoh aku dalam bait ini mempunyai karakter menerima apa adanya dengan disebut sebagai apa pun dia mau.
soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka sebab itu
aku rampok hati kamu. Toh nggak ada yang nggak ngerampok di dunia
ini. Iya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi
Pada bait ke empat larik pertama gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa Retoris, yakni ungkapan pertnyaan yang tidak usah dijawab. Hal itu terulang lagi pada larik terakhir pada kalimat Iya nggak?. Pada larik ke tiga penulis menggunakan gaya bahasa hiperbola, yakni pengungkapan yang berlebih-lebihan sehingga kenyataan itu menjadi tidak masuk akal, hal itu terdapat dalam kalimat aku rampok hati kamu.  Pada larik terakhir pula gaya bahasa yang digunakan Yudhistira adalah Pleonasme, yakni menambahkan keterangan pada pertnyaan yang sudah jelas atau menambah keterangan yang sebenarnaya tidak diperlukan. Pleonasme terdapat pada kalimat Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi.
habisnya, kalau nggak bilang begitu mau jadi apa coba
bunuh diri? Itu lebih berengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan
seperti kamu sehari sekarang ini
Pada bait ini gaya bahasa pengarang konsisten dengan bait-bait sebelumnya yaitu retoris yang terdapat pada kalimat bunuh diri?. Saskasme yang terdapat pada kata berengsek. Pada larik terakhir pengarang juga menggunakan gaya bahasa simile, yakni perbandingan implisit yang dinyatakan dengan kata penghubung sepeti, bagaikan, dan lain-lain.
kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
kamu bilang itu menyakitkan
Pada bait terakhir ini tidak berbeda dengan bait pertama dan ke tiga. Yaitu pengarang menggunakan gaya bahasa repetisi dan paralelisme. Namun pada larik terakhir penulis menghilangkan beberapa unsur kalimat, atau gaya bahasa elipsis, kamu bilang itu menyakitkan … yang seharusnya diisi dengan Aku bilang biarin untuk melengkapi larik tersebut jika melihat kekonsistenan pengarang, namun dalam larik itu sengaja dihilangkan agar pembaca dapat berpikir.
Puisi Biarin! karya Yudhistira Ardinugraha Massardi merupakan puisi yang sangat bagus untuk melihat gaya bahasa yang ditunjukkan oleh penulis. Puisi ini menggunakan nada cuek (masa bodoh) hal itu pula yang menggambarkan karakter tokoh Aku. Gaya bahasa yang digunakan penulis puisi itu sangat khas yang timbul dari bunyi, diksi, dan larik-lariknya yang mempunyai kesan keindahan. Secara keseluruhan Yudhistira menggunakan gaya bahsa repetisi, paralelisme, sarkasme, klimaks, hiperbola, pleonasme, simile, dan ellipsis.



KESIMPULAN
Stilistika merupakan cara pengkajian karya sastra bedasarkan keindahan bunyi, kata, kalimat yang disusun oleh pengarang. Pada bahasa yang bercirikan foregrounding, defamiliarisasi, dan deotomatisasi dalam karya satra inilah yang harus dipecahkan dalam pengkajian keindahan gaya bahasa yang digunakan pengarang. Analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati, memahami, dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang.
Yudhistira Adinugraha Massardi adalah salah seorang sastrawan yang mempertimbangkan stilititika dalam penciptaan karyanya khususnya puisi yang berjudul Biarin! puisi ini bernada main-main, mirip dengan puisi mbeling. Kekhasan bahasa yang diperlihatkan  dalam puisi itu menunjukkan keindahan penyusunan bahasanya. Dengan adanya itu maka kami melakukan penelitian menggunakan pendekatan stilistika untuk membuktikan keindahan, kekhasan, serta pemaknaan yang timbul dari bunyi-bunyi, kata-kata, dan lari dalam bait yang tersusun dengan indah. Secara keseluruhan Yudhistira menggunakan gaya bahsa repetisi, paralelisme, sarkasme, klimaks, hiperbola, pleonasme, simile, dan ellipsis.
 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MAKALAH RIZKI SUBBEH PENDEKATAN STILISTIKA DALAM PUISI “BIARIN!’ KARYA YUDHISTIRA ADINUGRAHA MASSARDI "

Posting Komentar