loading...

Teori Semiotika dan Penerapannya

Analisis menggunakan teori semiotik puisi “Wanita-wanitaku” karya W.S Rendra dan puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam” karya Mustafa Bisri Bagaimana unsur-unsur yang terkandung dalam puisi “Tetapi Aku” karya Amir Hamzah dan puisi “Sajak Putih” karya Chairil Anwar Oleh Rizki Subbeh


BAB
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan manusia tak lepas dari perjalanan yang indah, bahagia, cobaan, dan masalah. Puisi merupakan karya sastra yang bisa menggambarkan perasaan, masalah dimasyarakat bahkan masalah pada diri sendiri, mengungkapkan perasaan dalam hati dengan sebuah sajak yang dipilih dengan diksi-diksi yang baik sehingga dapat terbuat karya yang baik, mempunyai nilai seni yang tinggi merupakan sebuah karya yang baik dapat menyentuh perasaan penulis dan pembaca. Pembacapun dapat memahami karya puisi dengan  mudah dan tersentuh hatinya.
Karya sastra puisi adalah satu dari sekian banyak karya satra yang cukup menarik untuk di pelajari. Untuk itu perlu di ketahui mengenai struktur dan unsur pembentuk lainnya di antaranya yakni heuristik, hermeneutik, dan inteterkstualitas apabila terdapat hubungan interteks antara puisi satu dengan yang lainnya. Dalam memahami sebuah puisi,pembaca puisi hendaklah mengetahui makna dari puisi tersebut.Selain untuk mengetahui arti atau maksud dari puisi tersebut,kita juga mendapatkan ekspresi yang sesuai untuk ditampilkan dalam membaca puisi itu.Puisi merupakan sebuah struktur yang sulit ,maka untuk memahaminya seseorang haruslah menganalisis puisi tersebut.
Willibrordus Surendra Broto Rendra yang biasa dikenal dengan W.S Rendra lahir Solo, 7 November 1935 adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah.
Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu. Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo. Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya , tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya.
KH Achmad Mustofa Bisri merupakan salah seorang budayawn dan pembuat puisi yang ulung, banyak karya-karyanya yang telah dinikmati oleh banyak orang. Kiyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 di Boyolali, Jawa Tengah.
KH Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus, ini mempunyai prinsip harus bisa mengukur diri. Setiap hendak memasuki lembaga apapun, ia selalu terlebih dahulu mengukur diri. Itulah yang dilakoninya ketika Gus Dur mencalonkannya dalam pemilihan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada Muktamar NU ke-31 itu.
Karya sastra terutama dalam bidang puisi bukan lagi menjadi hal yang tabu bagi kedua penyair ini, puisi merupakan jiwa bagi keduanya. Dengan puisi maka ekpresi jiwa akan terekploitasikan. Penulis memilih dua puisi dari dua penyair di atas untuk dianalisi heuristik, hermeneutik, dan hubungan intertekstualitasnya, yaitu puisi “Wanita-wanitaku” karya W.S Rendra dan puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam” karya Mustafa Bisri. Kedua puisi tersebut mempunyai kesamaan dan keterkaitan, semuanya akan dibahas lanjut pada bab berikutnya.

1.1  Permasalahan
Bagaimana memahami makna puisi dengan metode pembacaan heuristik, hermeneutik pada puisi “Wanita-wanitaku” karya W.S Rendra dan puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam” karya Mustafa Bisri dengan menggunakan teori M. Riffaterre.

1.2  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan tentang “puisi “Wanita-wanitaku” karya W.S Rendra dan puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam” karya Mustafa Bisri adalah untuk  memahami dan mengetahui bagaimana makna dan intertekstual yang terdapat pada kedua puisi tersebut. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai sarana penambah ilmu pengetahuan dan mempermudah peneliti berikutnya ingin meneliti topik yang sama. 

1.3  Landasan Teori
Pada sub bab ini akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan analisis semiotik. Semiotik adalaah pendekatan yang menekankan tanda-tanda pada karya sastra. Rachmat Djoko Pradopo mengatakan dalam bukunya “Pengkajian Puisi” bahwa pertama kali yang paling penting dalam semiotik adalah sistem tanda, dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau sesuatu yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan petanda (signified) tau sesuatu yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat alamiah. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Sedangkan simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya, hubungan antaranya bersifat arbitrer atau semau-maunya (manasuka).
Makalah ini dalam melakukan penelitian atau tahap untuk menganalisis menggunakan teori dari Michael Riffaterre. M. Riffaterre mengungkapkan ada satu ciri penting dalam puisi, yaitu bahwa puisi mengekspresikan konsep-konsep dan benda-benda secara langsung.
Puisi sebagai bentuk ketidaklangsungan ekpresi. Menurut M. Riffaterre, dalam semiotik untuk membentuk sebuah tanda atau memaknai sebuah tanda terdapat konvensi bahasa, sastra dan budaya. Puisi secara semiotik telah dikemukakan merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna ditentukan oleh konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Konvensi tambahan adalah konvensi sastra diluar konvensi kebahasaan yaitu menggunakan ketidaklangsungan ekspresi.

Ketidaklangsungan Ekspresi
1.      Penggantian arti, menggunakan peribahasa
2.      Penyimpangan arti, terdapat ambiguitas atau memilik makna ganda, kontradisksi atau gaya bahasa yang bertentangan, dan nonsen atau kata yang tidak memiliki arti.
3.      Penciptaan arti, terdapat tipografi atau perwajahan puisi, enjambemen atau peloncatan baris, dan homoluques atau persejajaran kata.

Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik
            Untuk dapat memberi makna secara semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik. Konsep ini akan diterapkan sebagai langkah awal dalam usaha untuk mengungkap makna dan fenomena. Pembacaan heuristik menurut Riffaterre merupakan pembacaan tingkat pertama untuk memahami makna secara linguistik, sedangkan pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan tingkat kedua untuk menginterpretasi makna secara utuh. Dalam pembacaan ini, pembaca lebih memahami apa yang sudah dia baca untuk kemudian memodifikasi pemahamannya tentang hal itu. Hal ini dapat terjadi karena kajian didasarkan pada pemahaman arti kebahasaan yang bersifat lugas atau berdasarkan arti denotatif dari suatu bahasa. Sedangkan Pradopo (2002:135) memberi definisi pambacaan heuristik yaitu pembacaan berdasarkan struktur bahasanya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama Pradopo (2002:137) mengartikan pembacaan hermeneutik sebagai pembacaan berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat kedua (makna konotasi).
Pada tahap ini, pembaca harus meninjau kembali dan membandingkan hal-hal yang telah dibacanya pada tahap pembacaan heuristik. Dengan cara demikian, pembaca dapat memodifikasi pemahamannya dengan pemahaman yang terjadi dalam pembacaan hermeneutik. Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Artinya, pembacaan itu bergerak secara bolak-balik dari suatu bagian ke keseluruhan dan kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan ini dilakukan pada interpretasi hipogram potensial, hipogram aktual, model, dan matriks (Riffaterre,1978:5). Proses pembacaan yang dimaksudkan oleh Riffaterre (dalam Selden, 1993:126) dapat diringkas sebagai berikut:
1) Membaca untuk arti biasa.
2) Menyoroti unsur-unsur yang tampak tidak gramatikal dan yang merintangi penafsiran mimetik yang biasa.
3) Menemukan hipogram, yaitu mendapat ekspresi yang tidak biasa dalam teks.
4) Menurunkan matriks dari hipogram, yaitu menemukan sebuah pernyataan tunggal atau sebuah kata yang dapat menghasilkan hipogram dalam teks.

    Matriks
Riffaterre dalam Pradopo menjelaskan bahwa memahami sebuah puisi sama dengan melihat sebuah donat. Terdapat ruang kosong di tengah-tengah yang berfungsi untuk menunjang dan menopang terciptanya daging donat di sekeliling ruang kosong itu. Dalam puisi, ruang kosong ini merupakan pusat pemaknaan yang disebut dengan matriks. Matriks tidak hadir dalam sebuah teks, namun aktualisasi dari matriks itu dapat hadir dalam sebuah teks yang disebut model. Konsep ini dapat dirangkum dalam satu kata atau frase. Aktualisasi pertama dari matriks adalah model. Aktualisasi pertama itu berupa kata atau kalimat tertentu yang khas dan puitis. Kekhasan dan kepuitisan model itu mampu membedakan kata atau kalimat-kalimat lain dalam puisi. Eksistensi kata itu dikatakan bila tanda bersifat hipogramatik dan karenanya monumental. Berdasarkan hubungan antara matriks dengan model, dapat dikatakan bahwa matriks merupakan motor penggerak derivasi tekstual, sedangkan model menjadi pembatas derivasi itu. Dalam praktiknya, matriks yang dimaksud senantiasa terwujud dalam bentuk-bentuk varian yang berurutan. Bentuk varian itu ditentukan oleh model.
Oleh karena itu memberi makna pada puisi itu adalah mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna pada puisi (Pradopo, 2002; 124).  Dengan uraian di atas, maka dalam analisis puisi terutama dicari tanda-tanda kebahasaan kemudaian setelah itu menganalisis tanda-tanda tambahan yang lain yang merupakan konvensi tambahan dalam puisi.
Di konvensi-konvensi tambahan itu adalah konvensi bahas kiasan (symbolic extrapolation) yang dikemukakan oleh M. Riffatrre (dalam Pradopo, 2002;210), yaitu merupakan konvensi tambahan puisi bahwa puisi itu menyatakan pengetian-pengertian atau hal-hal secara tidak langsung, yaitu menyatakan sesuatu hal dean berarti yang lain. Dengan demikian itu, bahas puisi memberikan makna lain dari pada bahasa biasa.
Puisi sebagai bentuk ketidaklangsungan ekpresi Menurut M. Riffaterre, dalam semiotik untuk membentuk sebuah tanda atau memaknai sebuah tanda terdapat konvensi bahasa, sastra dan budaya. Puisi secara semiotik telah dikemukakan merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna ditentukan oleh konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Konvensi tambahan adalah konvensi sastra diluar konvensi kebahasaan yaitu menggunakan ketidaklangsungan ekspresi.

Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik         
            Untuk dapat memberi makna secara semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik. Konsep ini akan diterapkan sebagai langkah awal dalam usaha untuk mengungkap makna dan fenomena. Pembacaan heuristik menurut Riffaterre merupakan pembacaan tingkat pertama untuk memahami makna secara linguistik, sedangkan pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan tingkat kedua untuk menginterpretasi makna secara utuh. Dalam pembacaan ini, pembaca lebih memahami apa yang sudah dia baca untuk kemudian memodifikasi pemahamannya tentang hal itu. Hal ini dapat terjadi karena kajian didasarkan pada pemahaman arti kebahasaan yang bersifat lugas atau berdasarkan arti denotatif dari suatu bahasa. Sedangkan Pradopo (2002:135) memberi definisi pambacaan heuristik yaitu pembacaan berdasarkan struktur bahasanya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama Pradopo (2002:137) mengartikan pembacaan hermeneutik sebagai pembacaan berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat kedua (makna konotasi).
Pada tahap ini, pembaca harus meninjau kembali dan membandingkan hal-hal yang telah dibacanya pada tahap pembacaan heuristik. Dengan cara demikian, pembaca dapat memodifikasi pemahamannya dengan pemahaman yang terjadi dalam pembacaan hermeneutik. Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Artinya, pembacaan itu bergerak secara bolak-balik dari suatu bagian ke keseluruhan dan kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan ini dilakukan pada interpretasi hipogram potensial, hipogram aktual, model, dan matriks (Riffaterre,1978:5). Proses pembacaan yang dimaksudkan oleh Riffaterre (dalam Selden, 1993:126) dapat diringkas sebagai berikut:
1) Membaca untuk arti biasa.
2) Menyoroti unsur-unsur yang tampak tidak gramatikal dan yang merintangi penafsiran mimetik yang biasa.
3) Menemukan hipogram, yaitu mendapat ekspresi yang tidak biasa dalam teks.
4) Menurunkan matriks dari hipogram, yaitu menemukan sebuah pernyataan tunggal atau sebuah kata yang dapat menghasilkan hipogram dalam teks.

1.4  Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dengan menggunakan teori M.Riffaterre. Penelitian akan berhasil jika menggunakan metode yang tepat dan sesuai. Semi (1990:9) membagi dua jenis penelitian ditinjau dari metode kerja, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan pengukuran dan analisis yang dikuantitatifkan dengan menggunakan analisis statistik dan model matematik; sedangkan penelitian kualitatif yang diutamakan bukan kuantifikasi berdasarkan angka-angka, tetapi yang diutamakan adalah kedalaman penghayatan terhadap interaksi antarkonsep yang sedang dikaji secara empiris.
Pedekatan yang digunakan untuk membahas adalah analisis dengan menggunakan teori M.Riffaterre tetapi tidak secara keseluruhan teori tersebut dipergunakan. Penulis hanya meneliti pembacaan heuristik,hermeneutik, dan hubungan intertekstualitasnya pada kedua puisi yang akan dianalisis.
Penelitian terhadap puisi “Wanita-wanitaku” karya W.S Rendra dan puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam” karya Mustafa Bisri Navis dilakukan dengan menggunakan beberapa langkah yaitu:
  1. Membaca cerpen puisi “Wanita-wanitaku” karya W.S Rendra dan puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam” karya Mustafa Bisri dengan sering dan berkali-kali;
  2. Memperoleh data dengan membaca dan memahami puisi sampai pada akhirnya dapat menemukan permasalahan;
  3. Mengklasifikasi data yang terkait dengan unsur-unsur kajian;
  4. Menemukan heuristik, hermeneutik, dan hubungan intertekstualitasnya antara puisi “Wanita-wanitaku” karya W.S Rendra dan puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam” karya Mustafa Bisri
  5. Membuat kesimpulan penelitian.

Sumber dari semua data yang terdapat dalam penelitian ini puisi “Wanita-wanitaku” karya W.S Rendra dan puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam” karya Mustafa bisri.
  
BAB 
ANALISIS PENDEKATAN SEMIOTIK

 Analisis Semiotik Puisi “Wanita-wanitaku” Karya W.S Rendra
            Dalam sajak “Wanita-wanitaku” dikemukakan oleh si penyair bahwa laki-laki yang menjadi tokoh utama dan sebagai subjek pada puisi ini sedang meratapi kesedihan dan kesendiriannya karena ditinggalkan oleh wanita yang dicintainya. Wanita tersebut pergi meninggalkan dirinya seorang diri, bahkan si lelaki ini telah berusaha keras untuk terus mencari tanpa henti tanpa kenal waktu, dan pada akhirnya wanita ini benar-benar telah hilang hingga si lelaki menyadari bahwa pencariannya sia-sia belaka. Agar semakin jelas memaknai dan menemukan tanda-tanda semiotic pada puisi ini, penulis akan menampilkan puisinya.
Puisi “Wanita-wanitaku”
Gerimis menampar mukaku
dan aku berseru padamu
dimanakah kamu wanitaku?
Kamu menghilang di belakang
hotel
di dalam kabut kuburu kamu
kamu lari ke dalam bis kota
dan lenyaplah kamu untuk selama-
lamanya
Aku bernyanyi dikamar mandi
dan tiba-tiba tubuhmu yang
telanjang terbayang lagi
apakah kamu mengerti
kesepianku?
Sukmaku mengembara kedalam
rumah,diantara buku buku gambar-
gambar telanjang
meja makan yang berantakan
ranjang yang berbau mimipi
aku menagis
hubungan kita sia-sia
Sukmaku menjelma menjadi
seekor kucing tua
yang lalu mengembara luput ke
dalam perkampungan
Sudah sekian lama
sudah berbulan bulan
sudah bertahun tahun
sudah berabad abad
melewati kepulan debu
melewati angin panas
melewati serdadu dan algojo
melewati anjing anjing
aku memburu
memburu
memburu
berburu
berburu diatas harley davidson
mencari sukmaku sukmamu
yang telah lenyap bersama
                                                            (W.S Rendra)

Ketidaklangsungan Ekspresi
            Ketidaklangsungan ekspresi yang terdapat pada puisi, menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 2002;282) disebabkan oleh tiga hal : (1) penggantian arti, (2) penyimpangan arti, (3) penciptaan arti.

Penggantian Arti
            Ekpresivitas penggantian arti dalam puisi ini terdapat dalam bait pertama, ditemukan kata “gerimis menampar mukaku” adalah personifikasi. Rasa sakit yang dirasakan oleh si lelaki karena ditinggal pergi oleh si wanita digambarkan oleh si penyair dengan kata “gerimis menampar mukaku” penyair menampilkan bahwa sakit yang diderita si lelaki sama ketika butiran gerimis mulai jatuh menimpa wajahnya.
            Dalam sajak ini ada koherensi antara pilihan kata-katanya dan kiasan, yang semuanya itu memberikan dan memperkuat suasana keindahan si lelaki dengan perginya wanita yang digambarkannya itu.

Penyimpangan Arti
            1. Ambiguitas
        Ambiguitas atau makna ganda yang terdapat dalam sebuah puisi ini akan diuraikan sebagai berikut: dalam bait pertama pada kata-kata “gerimis menampar mukaku” itu ambigu, karena dapat dimaknakan bhawa pada saat itu keadaan yang menimpa si lelaki benar-benar sakit itu digambarkan seolah gerimis yang jatuh dari langit seolah dan menimpa wajah si lelaki ini seolah seperti sedang menampar muka si lelaki, atau makna lainnya adalah ketika kesakitan kehilangan yang dirasakan oleh si lelaki itu, keadaan sedang gerimis, hingga gerimis itu membasahi muka atau wajah si lelaki.
            2. Kontradiksi
          Seringkali puisi itu menyatakan sesuatau secara kebalikannya. Hal ini untuk membuat pembaca berpikir hingga pikiran pembaca terpusat pada apa yang dikatakan atau yang menjadi soal pada puisi yang dibahas. Untuk menyatakan arti makna kebalikan itu dipergunakan gaya ucap paradoks dan ironi.
        Paradoks adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlawanan atau bertentangan dalam wujud bentuknya. Akan tetapi , bila dipikirkan sungguh-sunggu hal itu wajar-wajar saja, tidak bertentangan. Paradoks pada puisi ini ditunjukkan pada bait:

        Aku bernyanyi di kamar mandi
        Dan tiba-tiba tubuhmu yang
        Telanjang terbayang lagi
                        …..

Kata “telanjang” dana “kamar mandi” terjadi keterkaitan, memang pada umumnya ketika seseorang sedang mandi pasri dalam keadaan telanjang. Kata ini pada kenyataannya bila dipikirkan hal itu tidak bertentangan.
Ironi adalah gaya bahasa untuk menyetakan sesuatu secara berbalikan. Gaya bahasa ini biasanya untuk menyindir atau mengejak. Gaya ironi dapat berupa frase, klausa, kalimat, wacana, atau seluruh sajak.. Dalam puisi ini tidsk ditemukan gaya icap ironi.
3.      Nonsense
Nonsense adalah kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti. “Kata-kata” itu ciptaan penyair, tidak ada dalam kamus bahasa. Dalam puisi ini tidak terdapat kata-kata yang tidak dapat dimengerti, semua kata-kata yang digunakan masih bisa dimengerti dan ada di dalam kamus bahasa.

              Penciptaan Arti
Diantara penciptaan arti sarana-sarana pencipta arti atau makna itu adalah sajak (rima), enjambemen (peloncakatan kata), homologue, dan tipografi.
Pada puisi ini pengarang lebih menekankan pada segi tipografi yang disusun secara lurus, tetapi ada jeda pada setiap baitnya yang tuajuannya setiap pergantian bait maka maknanya pun akan berbeda dari bait sebelumnya, tidak melepaskan diri dari makna yang sudah ada. Puisi ini terdiri dari empat bait yang mengisahkan tentang seseorang yang mengalami sebuah kejadian ditemui oleh Tuhan tapi orang ini tidak sadar akan kejadian itu.
Persajakan atau rima itu secara linguistik tidak mempunyai arti, tetapi menimbulkan makna intensitas dalam puisi.

Pembacaan Heruistik
Dalam puisi ini dibaca berdasarkan konvensi bahasa atau sistem bahasa sesuai dengan kedudukan bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama. Proses pembacaan heuristik puisi ini sebagai berikut.
                        Gerimis (seolah) menampar mukaku, dan aku berseru padamu, dimanakah kamu (wahai) wanitaku?
                        Kamu (sedang) menghilang di belakang (sebuah tempat) (yaitu) hotel, (dan) di dalam kabut (pun) (akan) kuburu kamu, kamu lari (masuk) ke dalam bis kota, dan (setelah itu) lenyaplah kamu untuk selama-lamanya.
                        (ketika) aku (sedang) bernyayi di kamar mandi, dan tiba-tiba (gambaran) tubuhmu yang (sedang) telanjang terbayang lagi (dalam) (benakku), apakah kamu mengerti (dengan) kesepianku (disini)?
                        Sukmaku (mencoba) mengembara ke dalam rumah (yang) (di) (dalamnya) (terdapat) diantara buku-buku (dan) gambar-gambar (dirimu) (yang) telanjang (keadaan) meja makan yang berantakan, ranjang yang berbau mimpi (sisa) (tidur) (semalam), aku menangis (terisak), (ternyata) hubungan kita (hanya) sia-sia (belaka).
                        Sukmaku (seolah) menjelma menjadi seekor kucing tua, yang lalu (pergi) mengembara luput ke dalam (sebuah) perkampung.
                        Sudah sekian lama, (dan) sudah berbulan-bulan (lamanya), (lalu) bertahun-tahun, (kemudian) berabad-abad, (aku) melewati kepulan debu, (aku) melewati angin panas, (lalu) melewati serdadu dan algojo, (aku) (melewati) anjing-anjing, aku memburu (mencarimu), (terus) memburu, (terus) memburu, (dan) berburu, berburu di atas (motor) Harley Davidson, mencari sukmaku, sukmamu (sukma kita), yang (ternyata) telah lenyap bersama.
                        Pembacaan heuristik ini baru memperjelas arti bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama. Makna sastra belum tertangkap. Oleh karena itu harus dibaca lebih lanjut.
Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan ulang dari awal sampai akhir dengan penafsiran. Pembacaan ini adalah pemberian makna berdasarkan konvensi sastra terutama pada karya sastra puisi.

            Bait pertama
                        Makna yang terkandung dalam bait pertama pada puisi “Wanita-wanitaku” ini, menggambarkan perasaan seorang lelaki yang keadaannya pada saat itu sedang dilanda kegalauan dan kegelisahan mencari seseorang perempuan yang sangat dicintainya, maka dari itu gambaran perasaan  sedih si penulis diungkapkan dengan kata-kata “gerimis menampar mukaku”. Menunjukkan bahwa hatinya kini sedang dilanda kesakitan, pencarian wanita yang sangat didambakannya itu digambarkan denga kata-kata “dimanakah kamu wanitaku”.
           
            Bait kedua
                        Diungkapkan dalam bait kedua pada puisi “Wanita-wanitaku” ini, bahwa wanita yang sedang dicarinya menghilang pada sebuah tempat di belakang hotel. Hotel dalam puisi ini dimaknakan sebagai tempat persinggahan sementara. Si penulis dalam puisi ini berperan sebagai laki-laki yang sedang mengejar si wanita tadi, tapi malang wanita itu masuk ke dalam bis kota dan pergi meninggalkan si lelaki yang mengejarnya di belakang. Maka sejak saat itulah, wanita yang dicintainya itu pergi untuk selama-lamanta meninggalkan si lelaki.

            Bait ketiga
                        Pada bait ini menceritakan ketika si lelaki ini sedang mandi, maka terbayanglah tubuh si wanita ini dalam keadaan telanjang seperti keadaan si lelaki yang sedang mandi dan tentunya telanjang. Si lelaki seolah berkata pada bayangan wanita yang telanjang tadi, berkata tidakkah wanita itu menyadari dan merasakan, mengerti akan kesepian yang dirasakan oleh si lelaki tanpa kehadirannya.

            Bait keempat
                        Pada bait keempat ini penulis mencoba masuk ke dalam kenangan yang pernah dilewati lelaki dan si wanita ini ketika dulu masih bersama.sukma si lelaki seolah mengembara mencari sosok wanita itu, di dalam sukma itu dia berada dalam sebuah rumah yang di dalamnya banyak buku dan gambar-gambar yang berserakan, keadaan meja makan yang berantakan, ranjang yang masih jelas rasa bau wangi mimpi sisa antara si lelaki dan wanita itu ketika tidur bersama. Laki-laki ini menangis meratapi kesedihannya, meratapi hubungan yang dijalaninya dengan wanita itu ternyata harus berakhir sia-sia.

            Bait kelima
                        Dalam bait ini penulis menampilkan si lelaki semakin meratapi dan terpuruk dlam kesedihannya dalam kesendirian seorang diri, laki-laki ini seakan menjelmakan dirinya menjadi seekor kucing tua, kemudian pergi mengembara melewati sebuah perkampungan mencari wanita itu. Perkampungan yang dimaksud dalam puisi ini adalah tempat yang ramai tapi si lelaki tetap merasakan kesepian karena yang dicarinya tak ditemuinya di sana.

            Bait keenam
                        Pada bait terakhir, tampaklah bagaimana perjuangan pencarian yang dilakukan si lelaki ini untuk menemukan wanita pujaannya, sekian lama menanti wanita itu dengan harapan si wanita itu akan kembali lagi padanya. Dari satu masa kmasa lainnya dan tanpa kenal waktu si lelaki terus memburu si si wanita untuk satu tujuan yanitu berharap untuk menemukan wanita yang didambakannya. Dengan mengendari motor Harley Davidson si lelaki terus mencari, mencari sukma si wanita untuk melengkapi sukma sukma si lelaki yang lambat laun mulai keropos karena dimakan waktu untuk mencari. Tapi harapan hanyalah sebuah harapan kosong tanpa ada balasan. Akhirnya si lelaki menyadari bahwa apa yang selama ini dia cari telah hilang, bahkan sukma yang keropos itu telah lenyap hilang bersama harapannya.

4.1.3        Matrix atau Kata Kunci
Untuk membuka sebuah puisi supaya dapat dipahami, dalam konkretisasi puisi, haruslah dicari matrix atau kata kuncinya. Kata kunci adalah kata yang menjadi kunci penafsiran sajak yang dikonkretisasikan.
Dalam puisi “Wanita-wanitaku” kata kuncinya adalah kata “Aku” iti sendiri. Kata “Aku” berhubungan dengan kata lainnya dan menjadi pusatnya. Dalam puisi ini semua berkaitan dengan keadaan si “Aku”. Si aku yang merupakan pokok masalah, si aku yang merasa kehilang seseorang yang sangat dicintainya.. Aku merasakan bahwa hatinya telah lemah, hatinya seolah mati, tidak ada lagi yang dapat menyinari hati si aku ketika menyadari wanita yang sangat dicintainya itu pergi dari kehidupannya
Semua itu adalah masalah yang terdapat dalam puisi “Wanita-wanitaku”. Puisi ini mengandung pesan dan mengajarkan sebagia salah satu bukti bahwa jangan pernah lelah untuk mengejar cinta yang memang benar-benar kita cintai, sampai kita mengetahui bahwa orang kita harapkan ternyata tidak mengharapkan kita.

4.2            Analisis Semiotik Puisi “Wanita Cantik Sekali di Multazam” Karya Mustafa Bisri

Puisi “Wanita Cantik Sekali Di Multazam”

Di tengah-tengah himpitan daging-daging doa
di pelataran rumahmu yang agung
aku mengalirkan diri dan ratapku
hingga terantuk pada dinding mustajab-Mu
menumpahkan luap pinta di dadaku

Ku baca segala yang bisa ku baca
dalam berbagai bahasa runduk hamba dari tahlil ke tasbih,
dari tasbih ke tahmid, dari tahmid ke takbir,
dari takbir ke istighfar, dari istighfar ke syukur,
dari syukur ke khauf, dari khauf ke raja, dari raja ke khauf
raja khauf
khauf raja
raja khauf
khauf raja
sampai tawakkal

Tiba-tiba sebelum benar-benar fana melela dari arah Multazam
seorang wanita cantik sekali
masya Allah tabarakAllah !
Allah, apa amalku jikak kurnia
apa dosaku jika coba ?

Allah, putih kulitnya dalam putih kerudungnya
Indah sekali alisnya
Indah sekali matanya
Indah sekali hidungnya
Indah sekali bibirnya

Dalam indah wajahMu
Allahku, ku nikmati keindahan dalam keindahan
Di atas keindahan di bawah keindahan
Di kanan-kiri keindahan
Di tengah-tengah keindahan yang indah sekali

Allahku, inilah kerapuhanku ! tak kutanyakan kenapa
Engkau bertanya bukan ditanya kenapa
Tapi apa jawabku ?—ampunilah aku—tanyalah jua yang ku punya kini :
Allahku mukallafkah aku dalam keindahanMu ?
(Mustafa Bisri)
Ketidaklangsungan Ekpresi
Ketidaklangsungan ekspresi yang terdapat pada puisi, menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 2002;282) disebabkan oleh tiga hal : (1) penggantian arti, (2) penyimpangan arti, (3) penciptaan arti.

4.2.1        Penggantian Arti
Dalam penggantian arti ini suatu kata atau kiasan merupakan arti alin dan bukan menurut arti sesungguhnya. Pada puisi ini terdapat bebarapa kiasan.
Dalam bait pertama dalam puisi “Wanita Cantik Sekali di Multazam”, terdapat kalimat yang bermakna ambigu yaitu “di tengah himpitan daging-daging doa”, kata “daging-daging doa” adalah kiasan atau metafora, karena kata “daging-daging doa” bisa juga diartikan lantunan doa atau butiran doa yang dipanjatkan, tetapi di sini penyair ingin menyampaikan bahwa si lelaki sedang berdoa melantunkan doa sengan isi doa. Dengan kata-kata “daging-daging doa” dapat diartikan pula bahwa yang melakukan doa ini dengan dengan sungguh-sungguh.

Penyimpangan Arti
Ambiguitas
            Makna ganda atau ambigutas yang terdapat dalam puisi “Wanita Cantik Sekali di Multazam” ini ditemukan pada kata-kata “Allahku, kunikmati keindahan dalam keindahan” itu ambigu. Tokoh si “aku” yaitu si lelaki ini melihat keindahan dalam keindahan maksudnya adalah wanita yang dlihatnya sangat cantik, sehingga itu dilukisikan dengan kata keindahan. Lata keindahan yang kedua atau makna ambigu dari kata keindahan dimaknakan sebagai Tuhan, karena Tuhan itu sempurna dan sempurna adalah sesuatu yang identik dengan keindahan.
  Kontradiksi
Dalam puisi modern banyak terdapat ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud secara berlawanan atau berbalikan. Ironi ini biasanya untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan. Ironi menarik perhatian dengan caranya membuat pembaca berpikir. Sering juga untuk membuat orang tersenyum atau membuat orang berbelaskasihan terhadap sesuatu yang menyedihkan.
Dalam puisi yang berjudul “Wanita Cantik Sekali di Multazam” karya Mustafa Bisri ini tidak ditemukan kontradiksi, atau kata-kata yang menyinggung tentang mengejek sesuatu, tidak ditemukan pula kata-kata yang bertentangan atau berlawanan dalam bentuk wujudnya.
Nonsense
Nonsense adalah kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti. “Kata-kata” itu ciptaan penyair, tidak ada dalam kamus bahasa. Misalnya, kata-kata dalam mantra seringkali berupa nonsense, dapat mempengaruhi dunia gaib. Dalam puisi ini tidak terdapat kata-kata yang tidak dapat dimengerti, semua kata-kata yang digunakan masih bisa dimengerti dan ada di dalam kamus bahasa.

4.2.3        Penciptaan Arti
Riffaterre (dalam Pradopo, 2002;220) menjelaskan terjadinya penciptaan arti  bila ruang teks atau spasi teks berlaku sebagai pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak ada artinya, misalnya simitri, rima, enjambemen, atau ekuivalensi-ekuilansi makna (semantik) diantara persamaan posisi dalam bait atau homologues.
Homologues atau persamaan posisi itu misalnya tampak dalam sajak pantu atau semacamnya. Semua tanda di luar kebahasaan itu mempunyai arti kebahasaan. Homologues dalam puisi ini terdapat dalam bait:

 Dalam indah wajahMu
Allahku, ku nikmati keindahan dalam keindahan
Di atas keindahan di bawah keindahan
Di kanan-kiri keindahan
Di tengah-tengah keindahan yang indah sekali

Dalam bait sajak itu ada persejajaran bentuk menimbulkan persejajaran arti: bahwa bagaimanapun wanita itu, dilihat dari sudut pandan manapun yang ada hanya keindahanlah yang tampak.

  Pembacaan Heuristik
Dalam pembacaan ini karya sastra dibaca secara linier, sesuai dengan struktur bahasa sebagai sistem tanda semiotik tingkat pertama. Untuk menjelaskan arti bahasa bilaman perlu susanan kalimat dibalik seperti susunan bahas normatif, diberitambahan kata sambung (dalam kurung), kata-kata dikembalikan ke dalam bentuk morfologisnya yang normatif. Pembacaan heuristik pada puisi “Wanita Cantik Sekali di Multazam” ini adalah sebagai berikut.
(diriku) (sedang) (berada) di tengah-tengah himpitan (yang) (berupa) daging-daging doa, (dan) di pelataran rumahMu yang agung, akku (bersujud) mengalirkan diri dan ratapku (pada-Mu), hingga (aku) terantuk pada dinding mustajab-Mu, menumpahkan (segala) luap (dan) pinta (yang) (bertahan) (di) (dadaku).
Ku baca segala (apapun) yang bisa kubaca, dalam bebagai bahasa (dan) runduk hama, (dan) dari tahlil ke tasbih, (dan) dari tasbih ke tahmid, (lalu) dari tahmid ke takbir, dari takbir ke istighfar, (kemudian) dari istighfar ke syukur, dari syukur ke khauf, (terakhir) dari raja ke khauf, dar raja (kembali) (lagi) ke khauf, raja khauf, khauf raja, sampai (akau) (bisa) tawakkal.
Tiba-tiba sebelum (aku) benar-benar fana (diri) melela dari arah Multazam, (datang_ seorang wanita (yang) cantik sekali, masya Allah, tabara Allah! Allah, apa amalku jikak kurnia, apa dosaku jika (ada) (keinginan) coba?
Allah, putih kulitnya (tersembunyi) di dalam putih kerudungnya, indah sekali alisnya, indah seklai matanya, indah sekali hidungnya, indah sekali bibirnya, (yang) (kesemuanya) (itu) (tergambar) (dari) dalam wajahMu.
Allah, (akan) kunikmati keindahan dalam keindahan (yang) (Kau) (ciptakan), (semua) (itu) (sempurna), di atas keindahan (dan) di bawah keindahan, (juga) (di) (sebelah) kanan-kiri keindahan, (dan) di tengah-tengah keindahan yang (juga) indah sekali (dipandang).
Allahku, (maka) inilah kerapuhan! (tapi) tak kutanyakan kenapa, engkau (yang) bertanya bukan (yang) bertanya kenapa, tapi apa(lah) jawabku? (maka) -ampunilah aku- (dan) tanyalah jua yang (sedang) kupunya saat ini, Allah (apakah) mukhallafkah aku dalam keindahanMu?.

4.3.2        Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan heuristik itu baru memperjelas arti kebahasaannya, tetapi makna karya sastra terutama puisi itu belum tertangkap. Oleh karena itu, pembacaan heuristik harus diulangi lagi dengan pembacaan retroaktif dan diberi tafsiran atau dibaca secara hermeneutik sesuai dengan konvensi sastra sebagai sistem semiotik tingkat kedua, sebagai berikut.

Bait pertama
            Diceritakan dalam puisi ini si “aku” menjadi peran si lelaki yang sedang berada dalam kekhusyu’an doanya pada Tuhan (Allah), berada di pelataran rumah Tuhan yaitu masjid uang dimulyakan. Bersujud memaohon doa dan menumpahkan segala yang menjadi ratapannya, mengaduhkan tentang segala apa yang dirasakannya, mengungkapkan segala apa yang menjadi pintanya yang tertanam hingga terasa sesak di dalam dadanya.

Bait kedua
            Si aku atau lelaki ini mencoba membaca apa saja yang dapat dia baca dalam pengaduannya kepada Tuhan, dari berbagai bahasa yang dia bisa. Bisa saja dia membaca alqur’an atau membaca terjemahannya, membaca tasbih, tahmid atau segala macam wiridan yang saling bergantian dia baca, dari bacaan tahlil, dari tahlil ke tasbih, kemudian beralih pada bacaan takbir, dari takbir diteruskan ke istighfar, syukur khauf, memuji Tuhan atau Raja (Allah) hingga sampai berada pada titik paling akhir yaitu tawakkal, pasrah setelah permintaan usaha dan doa yang telah dilakukannya.

Bait ketiga
            Pada bait ini penyair memunculkan sosok baru yang menjadi topik yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh si penyair dari awal, yaitu sosok wanita yang digambarkan sangat cantik, shingga si aku laki-laki ini menyebut nama Tuhan ketika melihatnya. Keinginan untuk mendekati si gadis ini terhalang karena teringat rasa takutnya akan Tuhannya, takut akan doa yang diterimanya dari Tuhan.

Bait keempat
            Di dalam ketakutan dan keinginan untuk mengetahui gadis itu lebih mendalam lagi, tiada berhentinya si lelaki ini memuji kecantikan dan pesona wanita yang dilihatnya. Dalam kekaguman yang memuji kecantikan dan pesona wanitanya, dalam kekaguman yang diciptakan Sang Tuha, kemudian kulitanya, alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya, seolah melihat bahwa gadis ini adalah makhluk paling sempurna yang pernah dilihatnya dan yang pernah Tuhan ciptakan.

Bait kelima
            Keindahan semakin mendominasi pada bait ini, keindahan yang dilebih-lebihkan. Penyair menggambarkan si wanita itu seolah tak mempunyai cacat sedikitpun, sangat sempurna, sangat cantik rupawan, sehingga yang tepancar dari segala sudut pandang manapun hanyalah kecantikan dan keindahan yang sedap dipandang mata. Si aku menikmati keindahan yang Tuhan anugerahkan pada si wanita, dipandangnya adri setiap sudut, dari atas dan bawah, dari kanan ke kiri, dan dari tengah-tengahpun yang tampak hanya keindahan yang nyaris tanpa cacat ataupun cela. Sungguh keindahan yang sangat luar biasa.

Bait keenam
            Si penyair menyampaikan si lelaki pada bait terakhir ini seolah mengadu pada Tuhannya, mengadu tentang kegundahan yang berkecamuk dalam hatinya, antara perasaan bersalahkah dia menyukai makhluk lawan jenisnya? Bukankah itu perasaan yang manusiawi? Pertanyaan semacam itulah yang dilontarkan, dia tanyakan pada Tuhannya. Sedang dia tau bagaimana Tuhan sudah mengatur batasan-batasan kekaguman pada tiap lawan jenisnya mengenai rasa suka. Pertanyaan yang sebenarnya penyair  sendiri sudah tahu pasti jawabannya, tetapi penyair ingin menimbulakn pertanyaan kepada setiap pembaca pada akhir syairnnya. Supaya pembaca dapat mejawab sendiri dengan jawaban yang berbeda pada tiap-tiap pembacanya.

4.3.3        Matrix atau Kata Kunci
Untuk membuka sebuah puisi supaya dapat dipahami, dalam konkretisasi puisi, haruslah dicari matrix atau kata kuncinya. Kata kunci adalah kata yang menjadi kunci penafsiran sajak yang dikonkretisasikan.
Dalam puisi “Wanita Cantik Sekali di Multazam” kata kuncinya adalah kata “Aku” itu sendiri. Kata “Aku” berhubungan dengan kata lainnya dan menjadi pusatnya. Dalam puisi ini semua berkaitan dengan keadaan si “Aku”. Si aku yang merupakan pokok masalah, si aku yang ketuka sedang berdaoa kemudian dikejutkan dengan kedatang seorang wanita yang cantik rupawan seolah mengetes iman si aku.
Semua itu adalah masalah yang terdapat dalam puisi “Wanita Cantik Sekali di Multazam”.

 semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan komentarnya..

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teori Semiotika dan Penerapannya"

Posting Komentar